TERASJABAR.ID – Krisis sampah di Kota Bandung kini berada pada fase paling mengkhawatirkan. Daya tampung TPA Sarimukti yang telah melampaui batas aman, ditambah penumpukan sampah di berbagai TPS, mulai menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan publik dan kualitas lingkungan kota.
Merespons kondisi tersebut, PKS Kota Bandung bersama delapan bidang internal secara resmi merilis pernyataan sikap sekaligus delapan rekomendasi strategis sebagai langkah konkret menghadapi darurat sampah.
Ketua DPD PKS Kota Bandung, Agus Andi Setiawan, menegaskan bahwa krisis ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam memandang persoalan sampah yang selama ini hanya berfokus pada penanganan di hilir.
“Kita terlalu lama bersembunyi di balik interior gedung-gedung yang indah, sementara di luar jendela, ruang publik perlahan berubah menjadi hamparan residu. PKS Kota Bandung menegaskan bahwa solusi paling mendesak saat ini adalah menghentikan aliran sampah organik sejak dari sumbernya. Tidak cukup lagi sekadar imbauan, kita membutuhkan mandat pengolahan mandiri,” tegas Agus Andi, Rabu (14/01/2026).
Dalam forum diskusi dan kajian yang digelar, PKS Kota Bandung merumuskan delapan rekomendasi utama, yakni:
- Menerapkan prinsip Eco Office di seluruh kantor PKS di setiap tingkatan di Kota Bandung.
- Membangun budaya hidup zero waste di kalangan kader PKS, disertai kampanye massif untuk mengajak partisipasi masyarakat.
- Mendorong Pemerintah Kota Bandung menerapkan program KBS dan Kang Pisman secara konsisten, dengan target penyelesaian sampah di tingkat kelurahan dan kecamatan.
- Mendorong pemerintah untuk memicu keterlibatan pelaku usaha dalam membangun ekosistem bisnis pengelolaan sampah.
- Mendorong pemerintah melakukan uji kelayakan dan keamanan lingkungan terhadap incinerator mini yang telah dan akan beredar.
- Mendesak pembatasan penggunaan plastik sekali pakai secara lebih tegas.
- Mendorong penerapan sanksi tegas bagi pembuang sampah liar serta gedung komersial yang tidak melakukan pemilahan dan pengolahan sampah.
- Mengalihkan investasi teknologi pengelolaan sampah dari sistem Kumpul–Angkut–Buang menuju sistem Pilah–Olah–Cuan yang berkelanjutan.
Melalui pernyataan ini, PKS Kota Bandung mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas kreatif, dunia usaha, serta para pengambil kebijakan untuk kembali ke “Titik Nol”—titik awal di mana sampah dihasilkan—sebagai langkah transformasi mendasar.
Tanpa perubahan drastis dari hulu, PKS menilai Kota Bandung berisiko kehilangan identitasnya sebagai kota jasa, kota kreatif, dan destinasi pariwisata unggulan.

















