TERASJABAR.ID – Kebijakan pengawasan jam malam bagi pelajar di Kota Bandung kembali menuai perhatian. Program yang sebelumnya dinilai efektif dalam menekan aktivitas negatif remaja pada malam hari, kini disebut mengalami penurunan implementasi bahkan nyaris tidak terlihat di lapangan.
Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKB, Mochamad Ulan Surlan, menilai melemahnya pengawasan tersebut berpotensi menjadi salah satu pemicu meningkatnya kenakalan remaja. Ia menyoroti bahwa pada masa awal penerapan, kebijakan ini mampu memberikan kontrol yang cukup signifikan terhadap aktivitas pelajar di luar rumah
pada malam hari.
“Di awal program, pengawasan jam malam ini berjalan cukup efektif karena ada kontrol yang jelas. Namun sekarang, implementasinya seolah menghilang dan tidak lagi terasa di masyarakat,” ujar Ulan, Senin (13/04/2026).
Menurutnya, kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya potensi konflik di kalangan pelajar, terutama pada malam hari. Ia mengaitkan lemahnya pengawasan dengan sejumlah insiden kekerasan yang melibatkan remaja, termasuk kasus terbaru yang menewaskan seorang pelajar yang diduga akibat tawuran.
“Peristiwa ini harus menjadi alarm serius bagi semua pihak. Ketika pengawasan melemah, anak-anak menjadi lebih rentan terlibat dalam aktivitas berbahaya, bahkan hingga merenggut nyawa,” tegas pria yang akrab disapa Om Ulan tersebut.
Sebagai Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Ulan menilai Pemerintah Kota Bandung belum maksimal dalam menjaga konsistensi pelaksanaan program tersebut. Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh, tidak hanya dari sisi pengawasan, tetapi juga koordinasi lintas instansi serta penegakan aturan di lapangan.
“Pemerintah kota harus hadir secara konsisten. Jangan sampai sebuah program hanya kuat di awal, lalu melemah seiring waktu. Ini menyangkut keselamatan generasi muda kita,” katanya.
Ulan juga menyoroti perlunya keterlibatan aktif berbagai pihak dalam mendukung keberhasilan kebijakan ini. Ia menyebut pengawasan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan harus melibatkan aparat kewilayahan, pihak sekolah, hingga orang tua.
“Sinergi semua pihak sangat penting. Aparat di tingkat kelurahan, sekolah, hingga keluarga harus ikut mengawasi aktivitas pelajar, terutama di luar jam belajar,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mendorong Pemkot Bandung untuk segera memperjelas mekanisme pengawasan serta sanksi bagi pelanggaran jam malam. Menurutnya, kejelasan aturan menjadi kunci agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif dan tidak hanya bersifat formalitas.
“Kalau kebijakan ini dianggap penting, maka harus ditegakkan secara konsisten. Harus jelas siapa yang mengawasi, bagaimana pola pengawasannya, dan apa konsekuensi bagi yang melanggar,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan, tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, potensi kejadian serupa akan terus berulang. Keselamatan pelajar, menurutnya, tidak boleh dipertaruhkan akibat lemahnya implementasi kebijakan.
Di akhir pernyataannya, Ulan menegaskan bahwa kasus tewasnya pelajar akibat dugaan tawuran menjadi pengingat bahwa persoalan kenakalan remaja bukan semata tanggung jawab individu. Lebih dari itu, diperlukan kehadiran negara melalui kebijakan yang konsisten, pengawasan yang nyata, serta komitmen bersama dalam melindungi generasi muda di Kota Bandung.
















