Ruang Server & AI Kematian
Tapi tunggu dulu.
Pasukan elit itu cuma penyapu sampah.
Pembunuh aslinya tidak memegang senapan. Ia duduk manis di dalam kabel optik bawah laut.
Sebulan lalu, Amerika diam-diam menyebar senjata baru: AI Finansial.
Dulu, sanksi ekonomi itu manual. Orang mengecek dokumen satu-satu.
Sekarang? Algoritma yang bekerja.
AI ini ganas. Ia tidak memburu nama perusahaan. Ia memburu pola.
Ada kapal tanker Venezuela mau beli bahan bakar di tengah laut?
AI mendeteksi pola transfer uangnya. Lewat Panama. Lewat Hong Kong.
Klik. Diblokir.
Kapal-kapal tanker itu menjadi bangkai besi terapung.
Mesinnya hidup, tapi tak bisa bergerak.
Asuransi maritim dari London diputus otomatis.
Biaya sandar pelabuhan ditolak.
Logistik Venezuela dicekik sampai biru.
Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, jenderal tidak setia.
Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena “dompet”-nya dimatikan dari jarak 4.000 kilometer.
“Lawfare”: Perang Gaya Baru
Yang bikin saya merinding bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya.
Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT).
Kenapa bawa polisi?
Ini cerdiknya. Liciknya.
Amerika ingin membingkai ini bukan sebagai “Invasi Militer” (itu melanggar PBB).
Mereka membingkainya sebagai “Penegakan Hukum” (menangkap buronan narkoba).
Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah.
Batas negara dianggap tidak ada.
Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial.
Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, di Moskow, di Caracas, mereka pakai dalih “surat perintah penangkapan”.
Ini namanya Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.

















