Dari sisi uang beredar (M2), Juli 2025 tembus Rp9.569,7 triliun. Ini memperlihatkan likuiditas domestik yang memadai untuk menyerap skema dana murah jika desainnya tepat.
Nominal PDB 2024 (harga berlaku) Rp22.139 triliun. Bila kita bicara underground/shadow economy, beragam studi memperkirakan ukurannya ~20–30% PDB (rata-rata jangka panjang). Ambil titik tengah 25% saja, berarti ada ~Rp5.500 triliun aktivitas ekonomi di luar radar resmi. Menarik 10% saja dari porsi ini ke sistem formal berarti ~Rp550 triliun—11× target gelombang awal Patriot Bonds. Inilah urgensi “nasionalisasi likuiditas” lewat persuasi.
Catatan bunga & insentif: Rata-rata bunga deposito 12 bulan di 2025 berkisar ±5%—di atas kupon Patriot Bonds 2%. Secara kalkulator, obligasi patriotik kalah menarik. Tapi secara politik-ekonomi, ia memberi license to operate bagi dana besar yang ingin pulang kampung dengan stempel “merah putih”.
Bagaimana cara kerja “nasionalisasi likuiditas” ini?
- Memanggil dana resmi konglomerat: Dengan kupon di bawah pasar, “imbal hasil” non-finansial yang dikejar adalah legitimasi, akses, dan reputasi. Di ekosistem proyek strategis—dari waste-to-energy sampai hilirisasi nikel—posisi ini berharga. Danantara sendiri sudah bergerak di nikel/green metallurgy.
- Menjinakkan uang abu-abu: Bagi dana yang selama ini berada di wilayah underground, Patriot Bonds memberi jalur formal untuk masuk sistem dengan jejak kepatuhan. Pelajaran dari Tax Amnesty 2016—realisasi repatriasi Rp121,3 triliun—dan PPS 2022—repatriasi Rp13,7 triliun—menunjukkan bahwa carrot policy bisa menarik uang pulang, meski belum maksimal. Patriot Bonds berpotensi jadi amnesty finansial bergaya pasar—lebih halus, lebih presisi.
- Dana murah untuk program besar: Kupon 2% membuat biaya dana supermurah untuk membiayai hilirisasi, infrastruktur energi, pangan, dan program kerakyatan—alih-alih mengandalkan utang luar negeri yang biasanya lebih mahal dan lebih “ribet”.
Apakah ini mengganggu perbankan?
Risiko funding outflow itu ada, tapi ukurannya terkelola. Dengan LDR industri ~86,4% (Juni 2025), ruang intermediasi bank masih lapang. Lagi pula, gelombang awal Rp50 triliun hanya ±0,54% DPK—tidak langsung mengeringkan likuiditas perbankan. Jika tekanan muncul, bank punya tuas penyesuaian bunga, sementara BI bisa mengelola transmisi kebijakan di sekitar BI-Rate 5,00%.