Saat akan masuk ke tabung, saya dibriefing. Saat di dalam dan oksiden murni dipompakan, telinga akan berdenging, seperti kalau kita naik pesawat di ketinggian 30.000an kaki. Agar tidak sakit, biasanya saya menutup mulut dan meniup sehingga kuping terasa plong. Sepuluh menit sebelum selesai, tekanan akan ditambah, dan telinga seperti berdenging berkali-kali.
Oleh petugas, kepada pasien diberikan tisu karena kemungkinan akan keluar cairan dari hidung, telinga, atau mulut. Sampai 7 kali ikut terapi, tisu yang saya kantongi tidak terpakai. Padahal ada pasien yang keluar cairan agak merah dari hidung atau seperti dahak dari mulut. Yang saya rasakan badan jadi mudah kretek-kretek di tangan, jemari, dan pergelangan lain. Alhamdulillah.
***
Saya menghabiskan waktu satu jam di dalam tabung baja dan kaca, ditutup rapat seperti pintu kapal selam atau brankas bank, dan bahkan setelah tutup diputar, masih diganjal palang besi. Tetapi di dalam disediakan tombol komunikasi, apabila pasien merasa tidak nyaman seperti sesak nafas atau kondisi mmendesak
Dalam brosur di media sosial, untuk membunuh waktu, pasien boleh membaca buku. Tidak bisa dari ponsel, harus disimpan di locker. Tidak boleh bawa apapun, hanya pakai kaus atau celana pendek ataupun training. Tubuh terbaring dan menatap langit-langit, saya sendiri tidur-tidur ayam saja. Coba berzikir, lama-lama mengantuk dan tidur pendek. Begitu bolak balik. Sampai di menit ke-50, petugas mengetuk-ngetuk kaca dan menyuruh tengkurap. Maksudnya agar semua cairan kotor yang terpengaruh masuknya oksigen murni, akan keluar dari mulut, hidung, ataupun telinga. Sebab intensitas penyaluran oksigen yang ditambah membuat kuping berdenging-denging selama 10 menit.
Setelah itu suplai oksigen dihentikan, tutup tabung dibuka, tempat tidur ditarik, pasien dikeluarkan. Bagaimana perasaanya? Saya merasa paru-paru lapang. Badan terasa enteng. Manfaat lain? Sulit digambarkan, kecuali nyaman dan merasa lebih sehat. Sampai dengan 7 kali terapi, itulah perasaan saya. Yang jelas tekanan darah yang awalnya 140/80 menjadi 120/80. Skor saturasi oksigen yang semula 97, setelah terapi akhir menjadi 99.
Tempat menginap di udara dingin, antara 20 hingga 23 derajat Celsius, di lereng bukit dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut, ikut memberi kesegaran tubuh. Tidak ada suara bising seperti di kota, sangat sedikit polusi udara, memberi ketenangan pikiran.
Maka saya berjanji pada diri sendiri ya kalau bisa 2-3 bulan sekali saya akan ke sini. Insya Allah. Tidak perlu seperti Pak Steve Sugita, pemilik Oxybaric Centre, yang menetap di fasilitas miliknya sehingga sewaktu-waktu bisa masuk tabung dan paling tidak satu kali dalam seminggu. Terapi oksigen murni 7-9 kali (seperti dianjurkan) mumpung badan belum sakit. Anggap saja charging bateri. Memelihara kesehatan, sekaligus mencegah penyakit. Umur manusia tidak ada yang tahu, tetapi memilihara tubuh pemberian Tuhan merupakan kewajiban manusia. Saya memandangi tagline Oxybaric Centre Steve Sugita, You Can Life Beyond 100 Years. Saya tidak mau menjadi Chairil Anwar, yang menyatakan ingin hidup 1000 tahun lagi. Biarlah kita menjalani hidup dengan keyakinan dan cara masing-masing. ***
















