Masyarakat pada umumnya harus mengesampingkan bahaya dari polusi itu. Mereka yang bekerja untuk menghidupi rumah tangga, berjuang khususnya secara fisik, melupakannya. Yang memakai kendaraan umum seperti KRL, MRT, Transjakarta, masih “lumayan beruntung” dibanding mereka yang menggunakan sepeda motor dari wilayah Bekasi, Tangerang, Depok, puluhan kilometer pergi pulang dalam sehari. Sebab pengendara itu menghirup langsung polutan di sepanjang jalan yang dilewati, entah itu asap knalpot, debu,dan mikroplastik yang bertebaran. Berhemat meski akan menabung bahan penyakit.
***
Dalam kondisi seperti itu maka kebutuhan menghirup oksigen murni menjadi “sesuatu” bagi kalangan menengah. Pantai dan gunung menjadi tempat healing karena udaranya dianggap lebih bersih dari pusat kegiatan di kota. Tidak heran setiap akhir pekan daerah sekitar Puncak, Lembang, Pelabuhan Ratu, Pantai Anyer, ramai pengunjung. Hanya saja banyaknya kendaraan wisatawan malah membuat kebersihan udara berkurang. Sudah capek, mengeluarkan biaya, eh ternyata udaranya terpolusi juga.
Itu sebabnya terapi hiperbarik, suplai oksigen murni, kian marak. Di kota-kota seperti Surabaya, Semarang, Bandung, apalagi Jakarta, muncul iklannya di media sosial seperti Instagram, Facebook, atau Tiktok. Padahal dulu di Jakarta misalnya fasilitas itu hanya dimiliki RSAL Mintoharjo di Pejompongan atau RS Pertamina, karena dua rumah sakit itu memang berkaitan dengan ruang lingkup kerja.
RSAL menyediakan untuk penyelam militer, sedang RS Pertamina untuk penyelam di lingkungan pengeboran minyak lepas pantai. Perawatan hiperbarik di tabung diperuntukkan bagi mereka yang baru melakukan penyelaman dalam waktu tertentu atau kedalaman tertentu, karena asupan oksigen ke pembuluh darah, khususnya di otak berkurang. Wajib dilakukan agar kondisi fisik para penyelam itu kembali normal.
Sementara terapi hiperbarik yang sekarang makin ramai, lebih pada suplai oksigen murni untuk menyisihkan polusi udara yang sudah masuk ke aliran darah, yang dapat menyebabkan penyakit tertentu. Atau mengembalikan fungsi tubuh tertentu yang terlanjur “rusak” seperti hipertensi, kanker, impotensi, diabetes, luka bakar, pasca operasi, atau sebagai bentuk perawatan, misalnya pelambatan penuaan, membuat kulit tetap kinclong.
Saya mengunjungi Oxybaric Centre Steve Sugita, di Cijambu, Kadudampit, Sukabumi, tanpa tujuan yang jelas, tetapi karena saya juga terkena diabetes dalam beberapa tahun ini. Mendengar cerita kawan, saya ingin mencoba fasilitas itu. Saya sudah mendengar terapi hiperbarik ini saat meliput dan diajak latihan olahraga selam di tahun 1980an, jadi sedikit tahu. Tetapi menjalaninya belum pernah mencoba.
Saya targetkan ikut 7 kali terapi, Jumat pagi hingga Minggu pagi. Berangkat sehabis subuh dari Ciputat, dengan berkendaraan santai, sekitar 08.15 saya tiba di fasilitas tersebut. Setelah melapor ke resepsionis karena sudah dibookingkan teman, sarapan dan rehat saya mulai terapi pukul 09.00 pagi. Setelah itu yang kedua pukul 13.00 dan terakhir pukul 16.00.
















