Menurut Reza, seharusnya polisi sebelumnya membuat sketsa wajah pelaku pembunuhan untuk dibandingkan dengan wajah pelaku pencurian. Baik dari rekaman CCTV maupun deskripsi saksi-saksi yang sudah diperiksa polisi.
Juga, belum ada pengecekan kesamaan DNA atau pun sidik jari pencuri dengan DNA dan sidik jari di lokasi pembunuhan.
Reza menerangkan, pembunuhan anak dengan puluhan luka tusuk menunjukkan bahwa pelaku sadis dan beringas. Bisa karena dendam atau peluapan kemarahan.
Kekerasan ekstrim itu bisa membuat pelaku ketakutan, sehingga memilih kabur. Bisa pula membuat pelaku trauma, sehingga mengisolasi diri.
Reza mengaku heran karena dengan kondisi psikologis tersebut, si pelaku beraksi kembali dengan melakukan pencurian. ‘Segila’ itukah si pelaku? Atau sebaliknya: secepat itukah pelaku menstabilkan guncangan jiwanya? Seprofesional itukah dia?,” ucapnya.
Reza mendukung polisi mengungkap kasus pembunuhan dan kasus pencurian di dua lokasi tersebut. Tapi sekedar mengingatkan, proses hukum tidak cukup mengandalkan pengakuan si pelaku pencurian.
Seperti diberitakan, MAHM, bocah 9 tahun meregang nyawa setelah menjadi korban penusukan di rumahnya sendiri di Komplek Bukit Baja Sejahter (BBS) III, Kota Cilegon, Banten. Korban ternyata anak dari polikus PKS. Peristiwa itu terjadi pertengahan Desember 2025 lalu.
Ayahnya adalah Maman Suherman, dewan pakar DPC PKS Kota Cilegon. Korban MAHM adalah murid SD Al Azhar 40 Kota Cilegon, Banten. Jasadnya sudah dimakamkan pada Rabu, 17 Desember 2025 sekitar pukul 13.00 Wib.
Saat ditemukan tak bernyawa, banyak luka tusuk di tubuhnya. Selama ini, keluarga dan kerabat mengenal korban sebagai pribadi yang baik, soleh, cerdas dan patuh orangtua.
Sempat mencuat kabar bahwa MAHM menjadi korban perampokan. Tetapi anehnya tidak ada barang berharga hilang dari dalam rumah. Sejumlah saksi juga sudah dimintai keterangan oleh Polres Cilegon. ***
















