Ia menyampaikan keterlibatan mahasiswa akan diperkuat melalui berbagai skema akademik agar berdampak berkelanjutan.
“Rencananya pendampingan ini tidak bersifat satu kali, tetapi bisa satu semester dan bisa dikonversi menjadi SKS. Jadi mahasiswa benar-benar mendampingi, memonitor, dan memastikan sistemnya berjalan,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, kolaborasi akan difokuskan pada pengembangan proyek percontohan di sejumlah kota dengan pelibatan aktif perguruan tinggi setempat.
Mahasiswa akan diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dan pengabdian kepada masyarakat untuk melakukan edukasi pemilahan, pengolahan sampah organik, hingga penguatan sistem monitoring berbasis komunitas.
Selain itu, Kemdiktisaintek juga mendorong penguatan inisiatif Campus Zero Waste.
Program ini diarahkan agar perguruan tinggi tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah di lingkungan internal, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan rujukan praktik baik bagi pemerintah daerah.
Saat ini, lebih dari seratus kampus telah memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri, dan jumlah tersebut akan terus ditingkatkan melalui verifikasi serta penguatan standar teknologi ramah lingkungan.
Sementara dari sisi dukungan keilmuan mencakup pengolahan sampah organik, komposting, biodigester, rekayasa material daur ulang, hingga teknologi konversi sampah menjadi energi, termasuk kajian peningkatan efektivitas fasilitas yang telah tersedia di daerah.

















