Tapi tidak semua tempat ada pangkalan ojek. ”Pangkalan ojek” menjadi istilah yang sama populernya dengan ”terminal bus”. Kadang pangkalan itu jauh dari kebutuhan: harus ada pohon rindang atau emperan kaki lima yang bisa dipakai ”mangkal”.
Maka sering kali saya memasang wajah memelas untuk mencegat pengendara motor yang iba: minta diantar ke tujuan. Misalnya ke kantor kementerian tertentu.
Fleksibilitas sepeda motor tidak ada tandingannya –sampai ada drone untuk angkut manusia kelak. Itu yang dilihat Nadiem: ojek. Lalu ia ciptakan aplikasi yang namanya tidak jauh-jauh dari itu: Go-Jek.
Ojek menjadi Go-jek. Ia masukkan unsur bahasa Inggris ”Go”. Keren. Let’s Go!
Pangkalan ojek pun ia pindahkan. Dari bawah pohon ke handphone Anda. Lalu dor! Meledak. Membumbung. Tinggi. Jadi gaya hidup baru. Jadi penggerak ekonomi. Jadi jembatan pemerataan pendapatan: kelas atas belanja. Kelas bawah mengangkutnya: Go-Food. Lalu Go-Cantik (?). Go-ApaSaja.
Nadiem pun menjadi orang sangat kaya lewat langkahnya itu. Ia jadi simbol anak muda yang super sukses. Ia pun jadi orang di atas langit dari hasil langkahnya yang membumi.
Begitu besar nama Nadiem –di saat masih begitu muda. Ia seperti anak yang lepas tinggi dari busur orang tuanya: Nono Anwar Makarim.
Nono adalah aktivis demokrasi, antikorupsi, pembela keadilan dan kebenaran. Ia salah satu pemimpin KAMI –Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Nono jadi komunikator gerakan. Utamanya lewat Harian Kami –koran mahasiswa yang sangat radikal dalam membela demokrasi, keadilan dan anti-korupsi.
Nono menjadi pemimpin redaksinya.
Pun istri Nono, Tika, juga aktivis antikorupsi. Tergabung di lembaga antikorupsi Mohamad Hatta –menggunakan nama wakil presiden pertama yang dikenal sangat bersih, sederhana, dan pejuang demokrasi. Rasanya, saya pernah dapat penghargaan dari lembaga itu. Atau tidak. Penghargaannya dikirim ke kantor Kementerian BUMN. Atau tidak. Saya sudah lupa.












