Selain rumusan kepemimpinan, forum menyepakati dua hasil lain, yaitu sebuah platform bersama dan desain organisasi berbentuk jejaring. Yanuar menyebut platform menjadi cara menyatukan banyak pihak yang berbeda, sementara jejaring memungkinkan banyak aktor dari latar berbeda terhubung di bawah tujuan yang sama tanpa tunduk pada satu pusat.
Ia menggambarkan kegelisahan yang serupa muncul di kalangan mahasiswa, profesional, dan anak muda, dan jejaring inilah yang hendak menghubungkan mereka. “Anda tidak sendirian,” katanya.
Penyelenggara menempatkan ketiga model kepemimpinan itu, bersama platform dan desain jejaring, sebagai satu model konsolidasi bagi organisasi masyarakat sipil yang selama ini beragam dengan segala tantangan dan dinamikanya. Gerakan masyarakat sipil kerap terbelah antara kecenderungan menjadi gerakan yang terstruktur dan terpusat di satu sisi, dan gerakan yang menyebar secara otonom layaknya rimpang di sisi lain. Melalui konsolidasi ini, Konferensi Republik berupaya mempertemukan keduanya agar setiap kelompok tetap dapat menjaga kemandiriannya tanpa kehilangan tujuan bersama, sekaligus menengahi ketegangan lama antara ego antarkelompok dan independensi yang ingin dipertahankan. Lewat jalan tengah semacam itu, masyarakat sipil diharapkan tumbuh cukup kokoh untuk menopang republik.
Sudirman Said memberikan apresiasi khusus kepada anak-anak muda yang menjadi pelopor utama penyelenggaraan. Ia menyebut forum tidak akan terwujud tanpa kerja sukarela mereka yang menyiapkan ruang, menjaga jalannya diskusi, dan tetap bertahan ketika lokasi acara dibatalkan pada saat-saat terakhir. Menurutnya, mereka bekerja tanpa pamrih dan tanpa meminta panggung, digerakkan oleh kecintaan pada Indonesia. Bagi Sudirman, kesukarelaan itu menjadi bukti paling nyata bahwa tiga model kepemimpinan yang diusung bukan sekadar gagasan di atas kertas, karena anak-anak muda telah mempraktikkannya lebih dulu.
Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Unsur Mahasiswa, Razaan Bayu Rachman, menilai masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang seperti ini, ruang intelektual yang mempertemukan semangat yang sama dari berbagai kalangan. Ia berharap Konferensi Republik menginspirasi lahirnya forum-forum serupa yang membuka diskusi bagi seluruh elemen masyarakat sipil. “Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi,” ujarnya.
Forum juga menampung usulan komposisi formatur yang akan menyusun kepengurusan. Selain Sudirman Said, Jaleswari Pramodhawardhani, dan Yanuar Nugroho, tujuh belas orang mengajukan diri dan diajukan sebagai formatur. Sudirman Said menyebut para formatur akan segera menggelar rapat untuk membentuk kepengurusan. Ia menegaskan kepengurusan yang terbentuk bukan susunan final dan akan terus bertambah seiring waktu, baik untuk memperkaya platform maupun memperkuat organisasi.
Ke depan, penyelenggaraan Konferensi Republik direncanakan digilir ke sejumlah kota yang telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah, dengan sejumlah tokoh yang akan turut membersamai. Bagi penyelenggara, momentum ini menegaskan bahwa ruang publik untuk membicarakan masalah publik tetap dibutuhkan, dan bahwa kepemimpinan yang institusional, kolektif, dan intrinsik adalah jalan untuk menempatkan kembali warga negara sebagai subjek dalam menentukan arah republik.***










