Cinta yang Merekatkan
Momen haru datang ketika Bu Munasri, wakil dari tujuh Srikandi, menyerahkan kenang-kenangan kepada Zhizhi, putri mendiang Pipiet Senja. Tidak banyak kata. Hanya pelukan. Lama. Erat.
Sementara itu, Bu Shinta, selaku Pj Acara, menyampaikan bingkisan cintanya kepada Fanny J. Poyk, sahabat terdekat Pipiet Senja.
“Terima kasih sudah menjaga Manini… bahkan ketika ia sudah tidak ada,” ucapnya pelan.
Dialog yang Dijaga dengan Rasa
Dialog interaktif mengenang 100 hari Pipiet Senja dipandu oleh Fetty Fajriati, moderator handal yang tidak hanya menguasai alur acara, tetapi menguasai rasa.
Dengan ketenangan, empati, dan kecermatan memilih jeda, Fetty menghadirkan ruang dialog yang aman, tempat tawa boleh muncul tanpa merasa bersalah, dan air mata boleh jatuh tanpa perlu disembunyikan.
Ia tidak memotong emosi, tidak tergesa mengejar waktu.
Ia membiarkan cerita bernapas, kenangan tumbuh, dan manusia hadir apa adanya.
Di tangan moderator yang handal, acara ini tidak sekadar berjalan rapi. Ia hidup.
Foto Bersama: Ikatan yang Diperpanjang
Acara ditutup oleh Ayah Arif dengan mengajak seluruh yang hadir untuk foto bersama. Namun yang sesungguhnya dipotret bukan sekadar wajah. Yang dipotret adalah ikatan.
Hari itu, Manini, Pipiet Senja dikenang bukan sebagai legenda. Ia dikenang sebagai ibu yang terlalu sibuk menghidupi orang banyak.
Dan di wajah Zhizhi, yang tertawa dan menahan tangis di hari yang sama, kita semua merasakan bahwa Cahaya itu tidak padam. Ia hanya berpindah.
Manini-Pipiet Senja memang telah berpulang. Namun hari itu ia membuktikan bahwa
Ia ternyata tidak benar-benar pergi. Ia meninggalkan warisan tak ternilai, barisan komunitas.
Barisan perempuan yang disentuh kehadirannya. Barisan anak-anak yang belajar memberi, bahkan ketika hidup tidak ramah. Barisan sahabat yang memilih saling menjaga, bukan sekadar saling mengenang.
Dan dari buku-buku yang diluncurkan hari itu, kita membaca satu pesan indah bahwa Hidup tidak diukur dari apa yang sempat kita nikmati, tetapi dari apa yang sempat kita bagikan.
Pipiet Senja mungkin tak sempat duduk santai menikmati hasil jerih payahnya. Namun hari itu, di ruangan kecil penuh cinta, kita semua menikmati hasil hidupnya.
Dan jika suatu hari dunia kembali terasa keras, ingatlah ini: Ada seorang perempuan bernama Manini-Pipiet Senja yang membuktikan bahwa kasih sayang bisa lebih panjang umurnya, daripada tubuh yang menampungnya. (Hati Pena)
Jakarta, 11 Januari 2025















