Doa yang Membuka Ingatan
Tepat pukul 13.00 WIB, acara dibuka dengan doa dan mengheningkan cipta. Dipandu oleh Ayah Arief sebagai host sekaligus MC, suasana langsung tertarik ke satu titik sunyi. Beberapa kepala tertunduk lebih lama dari yang diminta. Ada yang memejamkan mata. Ada yang diam-diam mengusap pipi.
Dalam sambutan singkatnya, Shintalya Azis, selaku murid kesayangan Manini sekaligus penanggung jawab Acara, menyampaikan sambutan pembuka bukan dengan kalimat formal, melainkan dengan suara yang bergetar oleh kedekatan.
“Manini tidak pernah pergi. Ia hanya berpindah rumah. Dan hari ini, kita memastikan rumah kenangan itu tetap menyala,” ungkapnya penuh haru.
Tiga Buku, Satu Napas Cinta
Video singkat tentang Manini, Pipiet Senja dan latar penerbitan tiga buku diputar. Di layar, wajah Manini hadir, bersahaja, dengan sorot mata yang selalu memberi ruang.
Marliani, sang editor, menjelaskan bagaimana tiga buku itu lahir bukan dari ambisi, melainkan dari hutang cinta. “Mengedit buku tentang Pipiet Senja itu berat. Harus ekstra hati-hati”, katanya terbata-bata ketika harus menjawab pertanyaan sang moderator.
Ia mengaku harus berhenti berkali-kali, karena, “Takut ada yang tidak pas…”
Cahaya yang Tak Pernah Padam (Tribute to Pipiet Senja), Perempuan Tangguh dan Romansa Dua Benua. Tiga buku, satu napas: All About Manini, tentang perempuan, ibu, sahabat, dan manusia yang memilih berbagi bahkan ketika hidup sedang sempit
Buku sebagai Hutang Cinta
Bu Fakhriyah, wakil penerbit Elfa, tidak berbicara tentang strategi penerbitan, ketika merespon pertanyaan Fetty, sang moderator. “Tiga buku ini lahir bukan karena pasar, namun lebih kepada memberikan ruang cinta kepada Manini, ” ujarnya mantap.
Ia menegaskan bahwa menerbitkan Tribute to Manini, Perempuan Tangguh, dan Romansa Dua Benua adalah bentuk tanggung jawab moral. “Kami hanya penerbit, penerus langkah. Yang menulis sesungguhnya adalah hidup Manini sendiri.”
Para Penulis: Kedekatan yang Tidak Pernah Formal
Satu per satu para penulis diundang ke panggung. Bukan untuk menjelaskan isi buku, melainkan untuk sharing dan caring mengapa tertarik untuk ikut menulis buku bersama sang Legenda.
Fanny J Poyk, Ika Patte, Yudiati kuniko, dan Nurul Jannah tidak berdiri sebagai penulis. Mereka berdiri sebagai manusia-manusia yang pernah disapa Manini secara utuh.
“Manini, Pipiet Senja tidak pernah bertanya: kamu siapa. Manini lebih senang menempatkan diri sebagai sahabat terdekat kita. Tak berjarak, ujar salah satu penulis dengan haru.
Yang lain menambahkan, “Ia tidak hadir untuk mengubah hidup orang. Ia hadir agar orang tidak merasa sendirian.”
Tidak ada kalimat yang berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat dada kita semua terasa sesak.















