(Membaca Pancasila, Algoritma, dan Komunikasi Politik Gen Z di Era Digital)
Oleh: Subchan Daragana
(Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie/ Ketua IPSM provinsi Jawa Barat)
Bayangkan jika malam ini Bung Karno membuka siaran langsung di TikTok. Dalam hitungan menit, ribuan bahkan jutaan pengguna mungkin akan bergabung. Sebagian datang karena rasa penasaran, sebagian karena kagum pada sosok proklamator, dan sebagian lainnya mungkin hanya ingin membuat konten reaksi. Di kolom komentar, berbagai respons bermunculan: ada yang serius berdiskusi, ada yang bercanda, dan ada pula yang sibuk membuat potongan video untuk diunggah ulang.
Pertanyaannya, apakah Bung Karno akan nyaman berbicara di ruang digital seperti itu? Atau justru sebaliknya, apakah TikTok adalah panggung yang sangat cocok bagi seorang komunikator besar seperti Soekarno?
Pertanyaan ini memang bersifat imajinatif. Namun di baliknya terdapat persoalan yang sangat nyata, yaitu bagaimana nilai-nilai kebangsaan, termasuk Pancasila, dapat dikomunikasikan kepada generasi yang hidup dalam budaya digital.
Banyak orang membayangkan bahwa tokoh-tokoh besar masa lalu akan kesulitan beradaptasi dengan teknologi modern. Padahal sejarah menunjukkan bahwa Bung Karno adalah seorang komunikator yang sangat adaptif terhadap media pada zamannya. Ia memahami bahwa sebuah gagasan hanya akan hidup jika mampu menjangkau masyarakat. Karena itu, ia memanfaatkan pidato, radio, surat kabar, hingga pertemuan-pertemuan akbar sebagai sarana menyampaikan visi kebangsaan.
Jika prinsip itu kita bawa ke masa kini, besar kemungkinan Bung Karno tidak akan memusuhi TikTok. Sebaliknya, ia mungkin akan memanfaatkannya. Bukan karena ingin menjadi selebritas digital, tetapi karena di sanalah rakyat berkumpul. Jika dahulu alun-alun dan lapangan menjadi ruang bertemunya pemimpin dengan masyarakat, maka hari ini ruang itu telah bergeser ke layar ponsel.
Dalam teori komunikasi, Marshall McLuhan pernah menyatakan bahwa the medium is the message. Media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memengaruhi cara pesan tersebut dipahami. Pidato satu jam yang menggetarkan massa pada tahun 1945 mungkin tidak akan bekerja dengan cara yang sama di era video berdurasi satu menit. Bukan karena pesannya kehilangan makna, tetapi karena cara masyarakat mengonsumsi informasi telah berubah.
Generasi Z tumbuh di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Mereka hidup dalam budaya scroll, budaya yang membuat seseorang dapat berpindah dari satu topik ke topik lain hanya dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan mempertahankan perhatian audiens.
Di sinilah letak persoalan yang menarik. Jika Bung Karno hidup hari ini, mungkin beliau tidak hanya dituntut menjadi orator yang hebat, tetapi juga komunikator digital yang mampu mengemas gagasan besar dalam format yang mudah dipahami generasi muda. Pertanyaannya bukan lagi apakah Pancasila penting, melainkan bagaimana Pancasila dapat hadir di tengah algoritma yang lebih menyukai hiburan dibanding refleksi.
Algoritma media sosial bekerja berdasarkan perhatian. Semakin menarik sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk muncul di beranda pengguna. Akibatnya, ruang digital sering kali dipenuhi konten yang menghibur, provokatif, atau sensasional. Sementara itu, nilai-nilai kebangsaan sering dianggap terlalu serius, terlalu formal, bahkan terkadang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari anak muda.
Padahal, jika ditelaah lebih jauh, banyak nilai Pancasila yang sebenarnya sangat dekat dengan realitas digital. Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, sebuah nilai yang relevan ketika kita menghadapi perundungan siber dan ujaran kebencian. Sila ketiga berbicara tentang persatuan, yang penting ketika masyarakat terpecah oleh polarisasi di media sosial. Sila keempat mengajarkan musyawarah, sesuatu yang semakin langka di tengah budaya saling menyerang di kolom komentar. Sementara sila kelima mengingatkan tentang keadilan sosial di tengah kesenjangan akses informasi dan teknologi.
Dengan kata lain, tantangan kita bukan karena Pancasila sudah tidak relevan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam bahasa yang dipahami oleh generasi digital.
Jika Bung Karno benar-benar hadir di TikTok malam ini, mungkin beliau tidak akan hanya berbicara tentang sejarah. Bisa jadi beliau akan mengajak anak muda berdiskusi tentang hoaks, algoritma, kecerdasan buatan, atau etika bermedia sosial. Sebab seorang komunikator besar selalu memahami bahwa pesan yang baik adalah pesan yang mampu menjawab persoalan zamannya.
Pertanyaan “Apakah Bung Karno akan viral di TikTok?” mungkin bukan hal yang paling penting. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita mampu membuat nilai-nilai kebangsaan tetap hidup di tengah budaya digital yang terus berubah.
Karena sesungguhnya, tantangan terbesar generasi hari ini bukanlah kekurangan informasi. Tantangan terbesar kita adalah memastikan bahwa di tengah banjir informasi, nilai-nilai yang membangun bangsa tetap memiliki ruang untuk didengar.
Dan jika Bung Karno benar-benar melakukan siaran langsung malam ini, mungkin pesan yang ingin beliau sampaikan tidak jauh berbeda dengan dahulu: Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya cepat mengakses informasi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Sebab teknologi dapat berubah, media dapat berganti, tetapi cita-cita untuk membangun bangsa tetaplah sama. ***












