Teladan Tajikistan
Hari-hari ini, masih terbersit perasaan galau di hati Marga Taufiq. Sesuatu yang mengganjal hatinya adalah rendahnya kesadaran “ekokrasi” bangsa (dan negara) kita
Ekokrasi adalah konsep tata kelola di mana bumi (alam) diposisikan sebagai mitra dalam pengambilan keputusan, untuk mencapai keadilan ekologis dan pembangunan berkelanjutan. Ekokrasi bertujuan membangun pemerintahan yang pro-lingkungan, sinergis antara ekologi dan ekonomi.
Terkait hal itu, ia sungguh mengagumi praktik ekokrasi di negara Tajikistan. Alkisah tahun 1997 – 1999 ia bertugas sebagai observer pasukan perdamaian PBB. Berangkat ke Tajikistan dalam jabatan Kasilat Sops Divif-1 Kostrad berpangkat kapten. Selesai tugas menjabat Wadan Yonif Linud-330 berpangkat mayor.
Selama di Tajikistan ia tinggal di apartemen ibu kota negara, Dushanbe. Suatu hari ia melihat pemilik apartemen yang tinggal di lantai paling bawah, naik ke kamar atas. “Namanya Umet. Ia masuk ke kamar saya dan mengatakan akan memangkas dahan pohon yang sudah menyentuh bangunan apartemen. Lalu saya tanya, mengapa harus naik lewat jendela kamar saya,” kisah Marga Taufiq.
Di situlah Umet menuturkan ihwal kebijakan negara, terkait larangan memangkas dahan, apalagi menebang pohon tanpa izin pemerintah. Karena itu, ia memangkas diam-diam dari jendela kamar, lalu menyimpan ranting pohon di bawah kasur. Ia menunggu sampai kering, baru dimusnahkan.
Umet menghindari tindakan memangkas ranting pohon ketahuan polisi. Sebab, tindakan itu termasuk delik pidana yang bisa menyebabkan Umet dijebloskan ke penjara.
“Jadi saya pelajari, negara itu (Tajikistan) memang sangat menjunjung tinggi ekokrasi. Semua sumber mata air dijaga, termasuk pepohonan. Sanksi perusak lingkungan sangat berat. Bayangkan saja, hanya memangkas ranting saja si Umet sampai sembunyi-sembunyi,” kata Marga Taufiq pula.
Ia berharap, pelajaran cinta alam, kesadaran tentang keseimbangan alam, harus ditanamkan dari kecil. “Sampai ekstremnya saya bilang, nggak usah jago matematikalah…. Yang penting cintai dulu alam,” katanya.
Bumi Pattimura
Benang-merah Marga Taufiq dengan (alm) Doni Monardo terajut melalui pohon. Ia makin menyadari hal itu ketika tahun 2019, menjabat Pangdam XVI/Pattimura. Dua tahun setelah masa kepemimpinan Doni Monardo di Pattimura, 2015 – 2017.
Di Pattimura, Marga Taufiq pun melanjutkan program Doni yang terkenal dengan Emas Hijau (pohon/tanaman), Emas Biru (hasil laut/perikanan), lalu Emas Putih (perdamaian). “Di Pattimura saya langsung berkunjung ke Batalyon 731/Masariku di Pulau Seram. Di sana kan ada kebun bibit peninggalan Pangdam Doni Monardo. Ketika saya lihat tidak ada aktivitas, saya langsung perintah untuk lanjutkan,” kata Taufiq pula.
Nah, di Maluku pula Marga Taufiq makin mendalami tentang hakikat “kita jaga alam, alam jaga kita”, slogan yang acap didengungkan Doni Monardo. “Di sana ada banyak kearifan lokal yang saya tangkap sebagai warisan budaya jaga alam. Seperti misalnya, ‘kalau masih ada ikan di laut, jangan sekali-kali makan ikan sidat’. Itu saya lihat di Maluku Tengah,” ujarnya.
Lalu ia mengisahkan “kearifan lokal” lain saat bertugas di Malang, sebagai Pangdivif 2/Kostrad (2018). Gunung Arjuna adalah sumber mata air. Masyarakat sangat sadar, pentingnya pohon untuk menjaga kelestarian sumber air.
Banyak petilasan dan situs sejarah di Gunung Arjuna. Sumber mata air yang tak pernah kering, adalah salah satunya. Pohon-pohon pinus yang ada harus dijaga. “Siapa pun yang jadi Pangdivif di sana, harus tahu dan menghormati, serta menjaga kearifan lokal itu,” pungkasnya. (Egy Massadiah dan Roso Daras)














