Jejak Tanah Maros
Sekadar mengilas garis sejarah, setelah wisuda , Letnan Dua Marga Taufiq langsung ditempatkan di Maros, Sulsel sebagai Danton Yonif 432/Waspada Setia Jaya. Batalyon yang merupakan bagian dari Brigif Para Raider 3/Tri Budi Sakti. Lalu pindah tugas di beberapa jajaran Kostrad yang ada di Jawa. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikan seskoad saat berpangkat mayor kembali lagi ke Sulawesi menjadi Dansecaba Rindam VII/Wirabuana, Sulsel.
Pangkat yang sama, sempat menjabat Komandan Yonif 711/Raksatama di Palu, Sulawesi Tengah. Dua tahun kemudian, pangkatnya naik menjadi Letkol dan menjabat Dandodiklatpur Rindam VII/Wirabuana.
“Pengalaman memimpin teritori pertama saya dapat saat menjadi Komandan Kodim 1403 di Palopo, Sulsel tahun 2003. Dua tahun kemudian, 2006, geser menjadi Dandim 1408/BS Makassar. Saat itulah saya mulai berinteraksi dengan pak Doni Monardo almarhum. Al-fatihah buat beliau,” papar Taufiq.
Kolonel Inf Doni Monardo yang disebut Marga Taufiq, saat itu menjabat Komandan Brigif Para Raider 3/Tri Budi Sakti, Kariango, Sulsel, tahun 2006 – 2008. Sejarah mencatat, ia bersama bankir (alm) Andi Tenry “Onny” Gappa, mengubah markas Brigif yang gersang menjadi rimbun oleh ribuan trembesi. Hari ini, Brigif Kariango adalah markas brigade paling hijau di Indonesia.
Tak hanya itu, bibit-bibit trembesi yang awalnya merupakan sumbangan Onny Gappa, oleh Doni dikembangbiakkan. Secara khusus, Doni membangun nursery (kebun bibit) trembesi dan beberapa jenis pohon lain, di wilayah belakang markas brigade.
Bibit-bibit trembesi itulah yang kemudian dikirim dan ditanam untuk menghijaukan berbagai daerah di Sulawesi Selatan, bahkan ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. Alhasil, hampir semua pohon trembesi yang Anda lihat di Sulawesi Selatan, sebagian besar bibitnya berasal dari Brigif Kariango (untuk tidak menyebut kalimat “dari Doni Monardo dan Onny Gappa”).














