TERASJABAR.ID – Suasana sakral dan khidmat mewarnai tradisi Hajat Bumi di Pemakaman Manangga (Astana Desa Cikeleng), Kecamatan Japara, Kuningan. Warga setempat berduyun-duyun dan berkumpul seraya membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur, di Astana Desa Cikeleng, Kamis (16/04/2026).
Kebersamaan dikalangan warga mencerminkan semangat gotong royong yang masih terpelihara di tengah perkembangan zaman.
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, saat hadir ditengah acara menegaskan, Hajat Bumi merupakan cerminan kearifan lokal yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat. Tradisi yang turun temurun ini menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual, budaya dan kehidupan sosisl masyarakat. Selain itu mengandung pesan penting tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Melalui tradisi Hajat Bumi ini Bupati Dian mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjaga lingkungan.
“Tradisi ini kata Bupati Dian mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Apa yang kita jaga hari ini akan menentukan kehidupan kita ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kuwu Desa Cikeleng, Rukmana, menjelaskan, Hajat Bumi merupakan bagian dari identitas desa yang terus dijaga kelestariannya. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama untuk keberkahan dan kesejahteraan masyarakat.
Prosesi hasil bumi yang ditampilkan ungkap Rukmana, memiliki makna filosofis mendalam. Mulai dari simbol persatuan, kemakmuran, hingga ketekunan dalam bekerja, seluruhnya menjadi pengingat nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.
Disebutkan, “cau saturuy: atau pisang satu tandan melambangkan persatuan dan kebersamaan masyarakat, di mana seluruh unsur, baik pemerintah desa maupun warga, diharapkan dapat berjalan selaras dan harmonis.
Sedangjan “pare sapocong” atau padi satu ikat menjadi simbol kebutuhan pokok sekaligus harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat.
Kelapa dimaknai sebagai simbol cita-cita luhur, yang mengandung pesan agar masyarakat memiliki tujuan hidup yang tinggi serta menjunjung kejujuran dalam setiap langkah pembangunan desa.
Adapun “beubeutian” atau umbi-umbian menggambarkan pentingnya kerja keras dan ketekunan dalam menjalani kehidupan, sebagaimana akar yang menembus tanah demi kelangsungan hidup.
Selain itu, umbi “waluh”:atau labu dimaknai sebagai simbol stabilitas dan keamanan, yang mencerminkan harapan akan kehidupan masyarakat yang tenteram dan damai.
Begitu pula lauk/ikan asin cucut menjadi simbol ketahanan dan kemampuan bertahan hidup, sebagai pengingat bahwa masyarakat harus mampu beradaptasi dan tetap kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.
Seluruh simbol tersebut sambung Rukmana, merupakan nilai-nilai yang perlu diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tradisi Hajat Bumi tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan jadi penguat jati diri dan kebersamaan masyarakat desa.
“Kami berharap tradisi ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda,” harapnya.









