TERASJABAR.ID – Pengurus Besar Paguyuban Pasundan bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung menggelar kegiatan Gerakan Pangan Murah bertema “Sayang Pangan, Sayang Masa Depan”.
Kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat yang datang sejak pagi untuk mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi meningkatnya kebutuhan bahan pangan menjelang dan selama bulan Ramadan. Sejumlah komoditas kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, sayuran hingga berbagai produk olahan pangan dijual dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.
Ketua Umum Paguyuban Pasundan, Prof Dr Didi Turmudzi, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus memanfaatkan momentum bulan suci untuk berbagi keberkahan kepada masyarakat.
Menurutnya, Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ini dalam rangka menyambut Ramadan, bulan suci yang sangat luar biasa. Di bulan ini kita menghadirkan berbagai kegiatan karena banyak keberkahan di dalamnya.
Kerja sama dengan DKPP Kota Bandung ini juga menjadi berkah karena kita melihat sendiri betapa banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujar Didi.
Didi mengatakan, antusiasme masyarakat terlihat dari panjangnya antrean warga yang ingin membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih murah.
“Ini menunjukkan program Gerakan Pangan Murah sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Ke depan, berencana menjadikan kegiatan rutin. Bahkan, kegiatan ini akan diperluas di berbagai kampus yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan di Bandung, “ujarnya.
Menjaga Stabilitas Harga Pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menjelaskan bahwa Gerakan Pangan Murah merupakan program pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat tetap dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau.
Menurutnya, menjelang Ramadan memang terjadi kenaikan harga beberapa komoditas pangan akibat meningkatnya permintaan. Karena itu, program ini menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk membantu masyarakat.
“Gerakan pangan murah ini memiliki kekhasan karena harga yang ditawarkan relatif lebih murah dari harga pasar. Kami memberikan fasilitasi distribusi pangan sehingga bisa memberikan semacam subsidi harga,” jelasnya.
Sebagai contoh, harga telur di pasaran saat ini berkisar Rp30.000 per kilogram, namun dalam kegiatan tersebut masyarakat dapat membelinya sekitar Rp27.000 per kilogram. Beberapa komoditas lainnya juga dijual dengan harga lebih rendah.
Komoditas yang paling banyak diminati masyarakat antara lain beras, minyak goreng, telur, dan cabai rawit. Selain itu, permintaan terhadap daging sapi juga mulai meningkat.
Meski terjadi peningkatan permintaan selama Ramadan, DKPP memastikan stok pangan di Kota Bandung masih dalam kondisi aman hingga Lebaran nanti. Bahkan stok beras disebut masih cukup melimpah.
Libatkan UMKM dan Inovasi Kampus
Ketua penyelenggara Gerakan Pangan Murah Paguyuban Pasundan, Yusman Taufik, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menyediakan bahan pangan murah, tetapi juga melibatkan berbagai pihak termasuk pelaku UMKM serta lembaga keuangan.
“Terdapat sekitar 15 stand dalam kegiatan ini. Ada stand UMKM, penjualan bahan pokok seperti beras, minyak, telur dan sayuran, produk olahan pangan, hingga pembagian bibit ikan dan sayuran gratis. Kami juga menyediakan konsultasi kesehatan hewan bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan ini juga didukung sejumlah lembaga perbankan seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, serta Bank BJB yang membuka layanan bagi masyarakat.
Selain itu, bazar ini juga menjadi ajang memperkenalkan produk hasil riset dosen melalui Badan Usaha Pasundan. Salah satunya disampaikan oleh dosen Administrasi Bisnis Universitas Pasundan, Siti Patimah, yang memamerkan berbagai produk olahan seperti keripik, basreng, cireng hingga aneka camilan.
Menurutnya, produk-produk tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai fakultas di Universitas Pasundan yang melibatkan pelaku usaha serta inovasi dari hasil riset dosen.
“Produk ini berasal dari pelaku usaha yang kami himpun dan juga dari hasil riset dosen. Ke depan produk ini akan dikembangkan sebagai inovasi kewirausahaan kampus,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pengunjung, Henhen dari SMA Negeri 13 Bandung, mengaku terbantu dengan adanya bazar pangan murah tersebut.
“Di sini memang lebih murah dibandingkan harga pasar, selisihnya sekitar Rp2.000 sampai Rp5.000. Dengan kondisi sekarang, bazar seperti ini cukup membantu,” katanya.
Melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah ini, Paguyuban Pasundan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung berharap masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga semakin sadar pentingnya menjaga ketahanan pangan serta memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.











