Sinergi ini mencakup koordinasi, berbagi data, serta pertukaran keahlian guna memperkuat efektivitas sistem peringatan dini nasional.
Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB, Wedyanto mengatakan bahwa semangat early warning dan zero victim harus menjadi dasar sekaligus tujuan bersama dalam kolaborasi ini.
“Early warning dan zero victim menjadi dasar kita semua, menjadi tujuan kita semua untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana, sekaligus memitigasi risiko yang ada. Zero victim adalah target bersama yang harus terus kita upayakan,” katanya.
Sebagai langkah konkret, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam dua fokus utama.
Pertama, pengembangan model cuaca resolusi tinggi melalui skema joint development antara tim BMKG dan ITB. Model ini diharapkan mampu meningkatkan ketelitian prediksi cuaca hingga skala lokal.
Kedua, penguatan informasi berbasis dampak (impact-based forecast) beserta model pendukungnya, seperti model risiko, model hidrologi, dan model hidrodinamika.
Tahap awal implementasi akan difokuskan di wilayah Jabodetabek yang memiliki kompleksitas risiko banjir tinggi, baik dari sisi hulu maupun hilir, termasuk potensi banjir pesisir.
Integrasi model hidrologi dan model kelautan menjadi bagian penting dalam sistem ini guna memastikan peringatan dini yang lebih komprehensif.















