Pada sektor pertanian, ia mengimbau petani untuk menyesuaikan kalender tanam dengan menghindari menanam saat puncak kemarau. Gunakan varietas tanaman yang tahan kering atau beralih ke komoditas palawija. Optimalisasikan juga irigasi yang hemat air.
Musim kemarau yang lebih kering dan panjang juga tak lepas dari potensi bencana. Oleh karena itu, BMKG mengimbau pihak terkait untuk siap menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan.
Selain itu, agar musim kemarau tak mempengaruhi sektor energi dan lingkungan, maka perlu dipastikan kapasitas air di bendungan untuk operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Tak kalah penting, saat musim kemarau, masyarakat diimbau menjaga kesehatan. “Antisipasi peningkatan infeksi saluran pernafasan akut akibat asap. Awasi juga kualitas sanitasi saat pasokan air berkurang,” ucap Vivi.***
Sumber: BMKG
















