TERASJABAR.ID – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memprediksi kemungkinan terjadinya fluktuasi harga pangan pokok seminggu sebelum dan seminggu sesudah Idulfitri 1447 Hijriah.
Ini merupakan tren yang berulang setiap tahun, sehingga tradisi ini telah diantisipasi oleh pemerintah sedini mungkin dengan sederet program intervensi pangan.
“Kita lihat beberapa tahun terakhir, kalau kondisi di bulan Ramadan itu minus satu minggu dan plus satu minggu biasanya ada fluktuasi. Jadi seminggu sebelum dan seminggu setelah Lebaran. Ini memang sudah tradisi. Pemerintah akan mengantisipasinya,” kata Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy.
Dilansir siaran pers Bapanas, Sarwo menjelaskan pemerintah terus mengupayakan produksi pangan dalam negeri sebagai tumpuan utama. Selebihnya, implementasi program intervensi pangan yang menyasar masyarakat secara langsung dipastikan dapat dijalankan secara masif.
“Hal pertama yang dipastikan pemerintah adalah pemenuhan dari produksi dalam negeri. Kita lihat produksi dalam negeri masih sangat cukup. Sebagian besar ketersediaan pangan pokok strategis kita dapat dipenuhi dari hasil kerja keras petani-petani Indonesia sendiri,” tambah Sarwo.
Bapanas memproyeksikan ketersediaan beras nasional hingga akhir April 2026 diperkirakan dapat mencatat surplus 17,2 juta ton. Komoditas jagung juga diproyeksikan surplus 4,8 juta ton. Minyak goreng secara nasional mencatatkan surplus 3,5 juta ton.
Daging ayam juga mencatatkan surplus 727 ribu ton sampai April. Gula konsumsi surplus 595 ribu ton. Telur ayam surplus 349 ribu ton. Sementara cabai rawit, cabai besar, dan bawang merah masing-masing surplus 105 ribu ton, 74 ribu ton, dan 57 ribu ton. Sembilan jenis pangan tersebut sepenuhnya dipasok dari produksi dalam negeri.
Setelah memastikan produksi pangan dalam negeri telah memadai, program stimulus ekonomi pun dikucurkan menyambut Ramadan dan Idulfitri tahun ini. Salah satunya program bantuan pangan beras dan minyak goreng melalui penugasan Bapanas ke Perum Bulog.
















