Tahun Baru Rasa Orde Baru.
Oleh: Lukas Luwarso *
Indonesia menghadapi situasi gelap politik di Tahun Baru 2026. Metamorfosa politik Indonesia beberapa tahun terakhir menunjukkan gejala regresi, mundur kembali ke titik awal.
Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) kembali merajalela. Hukum kembali menjadi alat politik, dengan pemberlakuan KUHP dan KUHAP baru yang represif.
Wacana kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD dirancang, amandemen UUD akan dianulir.
Politikus Indonesia sedang berkomplot membangkitkan kembali Orde Baru (Orba).
Teror pada suara kritis bermunculan dan ribuan pengunjuk rasa ditahan. Teror terhadap aktivis, media, dan pegiat media sosial, mulai dari serangan digital, pengiriman bangkai hewan, hingga lemparan bom molotov marak di penghujung 2025.
Perbuatan pengecut fasistik ini terkait kritik pada pemerintah atas penanganan amburadul bencana Aceh-Sumatera.
Menurut data LBH dan Amnesty International, setidaknya 5.000 demonstran ditangkap dalam rangkaian aksi unjuk rasa sepanjang tahun 2025.
Dan hampir seribu diantaranya ditetapkan sebagai tersangka. Amnesty menyebut penahanan massal aktivis menjadikan tahun 2025 sebagai “Tahun Paling Gelap bagi Hak Asasi Manusia”.
Situasi gelap ini bakal menjadi pekat, mengingat polisi sudah ber-multi fungsi menjadi parcok, dan TNI mulai berdwi-fungsi dengan menduduki banyak posisi jabatan strategis.
Termasuk pembentukan 150 batalyon baru, dari rencana total 750, dinamai: “Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan.”
Bayang-bayang Big Brother. Situasi represif, manipulatif, dan koruptif, ala era Orba bahkan kini lebih telanjang tak kenal malu.
Era Orba setidaknya tidak menggunakan cara-cara pengecut mengirim bangkai atau telur busuk.
Dengan alat represi KUHP dan KUHAP baru, polisi bisa menjadi Stasi (Staatssicherheit), “Big Brother” ala polisi rahasia Jerman Timur era 1950-an, menjadi alat represif demi “keamanan negara”.
Mengawasi wilayah privat dan ekspresi publik, untuk mengkriminalisasi secara politik. Status menjadi badan intelijen paling mengerikan dalam sejarah, menyimpan arsip informasi rinci dari kehidupan pribadi rakyat.
Menjadi momok yang menyebarkan rasa takut rakyat Jerman Timur. Sebagaimana rakyat Indonesia pernah alami di era Orde Baru.
Otoritarianisme Orba telah tumbang melalui gerakan Reformasi, namun ia tidak hilang. Sepuluh tahun terakhir bertransformasi menjadi populisme, dan kini mengarah menuju fasisme.

















