Dalam konteks ini, teknologi dan konsep smart tourism seharusnya menjadi alat pendukung, bukan tujuan. Smart tourism bukan sekadar aplikasi atau promosi digital, melainkan sistem yang memungkinkan cerita kota disampaikan secara kontekstual, etis, dan partisipatif. Tanpa literasi budaya dan komunikasi, teknologi justru berisiko mempercepat banalitas cerita.
Bandung tidak kekurangan cerita. Yang kita butuhkan adalah kesepakatan tentang cerita mana yang ingin kita rawat dan wariskan. Apakah
Bandung hanya ingin dikenal sebagai kota singgah, atau sebagai kota yang mengajak orang berhenti sejenak, memahami, dan menghargai jejak sejarahnya?
Pariwisata yang kuat bukanlah pariwisata yang paling ramai, melainkan yang paling bermakna. Ketika storytelling Bandung dibangun secara sadar oleh warga, komunitas, pemerintah, dan tourism board kota ini tidak hanya akan dikunjungi, tetapi juga dipahami dan dikenang.
Dan pada akhirnya, tugas kita bersama bukan sekadar mendatangkan orang ke Bandung, melainkan memastikan bahwa setiap orang yang datang pulang membawa cerita yang bernilai tentang kota ini, ***
.

















