Catatan: Imam Wahyudi (iW)
PRAGMATIS melanda sepakbola. Tak tanggung-tanggung merambah level dunia. Tuduhan itu diarahkan ke FiFA yang mesti bertanggungjawab. Adalah Fédération Internationale de Football Association atau Federasi Sepakbola Dunia.
Tak terbantahkan terjawab di ajang Piala Dunia 2026. Berlangsung di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Bahkan sejak laga pembuka pada fase grup. Komunitas sepakbola dunia langsung disuguhkan pertandingan yang tidak bermutu. Jauh dari kata turnamen kelas jagat raya.
Pembantaian berkelanjutan, sejak peluit pertama di bunyikan. Hal tak lazim. Alih-alih unjuk persaingan setara laga turnamen bertajuk dunia. Nyata adanya. Jerman membantai Curacao 7-1, Kanada menghajar Qatar 6-0, Swedia gilas Tunisia 5-1. Dengan skor yang sama, Swedia dihempaskan Belanda.
Tampak virus kasat mata yang mempertaruhkan sportivitas. Mengandalkan lobby-lobby yang kuat indikasi aliran fulus. Sangat mungkin nominalnya pun menggila. Skor mencolok lainnya dibuat timnas Jepang yang membantai Tunisia dengan empat gol tanpa balas. Christian Ronaldo dkk menggusur Uzbekistan 5-0. Pun Belgia menggusur Selandia Baru 5-1. Timnas Senegal mengirim lima gol (5-0) ke gawang Irak yang sebelumnya dicekok tiga gol tanpa balas oleh Mbappe dkk (Prancis).
Ketika gol-gol itu melesak ke gawang lawan, maka sebuah pertandingan sepakbola sudah tidak menarik lagi. Piala Dunia kali ini kehilangan greget sedari awal. Praktis penurunan prestasi. FIFA tercoreng wibawa. Tradisi turnamen kelas dunia yang menjanjikan prestasi tim dan persaingan setarra, sungguh tak terjadi. Sia-sia mesti menunggu setiap empat tahun.














