TERASJABAR.ID – Ruang belajar siswa sekolah dasar dan menengah sejak awal telah diintervensi oleh ideologi dan kekuasaan. Desain ruang sekolah siswa merupakan projek politik kekuasaan untuk menundukkan warga. Secara tersembunyi, projek ini menyelip dalam paradigma modernisme yang menjadi gaya desainnya.
Hal itu dikemukakan dalam orasi ilmiah Prof. Dr. Acep Iwan Saidi, S.S., M.Hum., saat dikukuhkan sebagai anggota baru guru besar ITB. Pengukuhan diselenggarakan oleh Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB-ITB), Sabtu (13/6/2026).
Pada orasi ilmiah bertajuk “Ideologi dan Kekuasaan di Balik Desain Ruang Belajar Siswa Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia”, Prof. Acep –akrab dipanggil Ais– mengatakan, paradigma modernisme bersifat sistemik, membatasi ekspresi, mengedepankan struktur, dan membersihkan ruang dari elemen-elemen kultural.
“Paradigma ini memang berlaku global, tetapi di Indonesia gayung bersambut dengan ideologi kekuasaan. Intervensi kekuasaan disimbolkan melalui penghadiran gambar presiden, lambang negara, dan wakil presiden di ruang kelas. Gambar-gambar itu kan tidak ada kaitannya dengan materi dan proses belajar,” tegas Ais.

Menurut Ais, ruangan dengan paradigma desain dan intervensi kekuasaan demikian telah menyebabkan siswa terbelenggu, pasif, tidak kritis, dan miskin kreativitas. “Bayangkan, setelah selesai sekolah dasar, di sekolah menengah pertama dan atas siswa juga masuk ke ruangan dengan desain dan kondisi yang sama. Dua belas tahun warga Indonesia dibelenggu, tubuhnya ditundukkan oleh desain ruang yang sistemik dan ideologis,” tandasnya.
Ais juga menyampaikan, ruang itu telah kadaluarsa dan sudah tidak kontekstual. Dari sebelum kemerdekaan sampai sekarang, ruangan itu tetap begitu. Ajaib, padahal konteks zamannya telah jauh berubah, telah jauh meninggalkannya. Jadi, desain ini sudah saatnya dievaluasi dan diubah.
Berdasarkan analisisnya, melalui orasi yang disampaikan selama dua puluh menit tersebut, Ais merekomendasikan lima hal.
Pertama, desain ruang belajar siswa bukan hanya infrastruktur fisik sebagai tempat belajar, melainkan juga konstruksi arsitektural substansial sarat makna yang berpengaruh dalam membentuk diri siswa yang berkarakter dan kreatif. Oleh sebab itu, desain ruang belajar harus menjadi pertimbangan dalam pemutusan kebijakan dan penyusunan sistem pendidikan kedepan.
Kedua, subjek yang berkarakter dan kreatif hanya dimungkinkan jika siswa bisa belajar pada ruang yang membebaskan, yakni ruang yang tidak diintervensi oleh berbagai kepentingan di luar ranah pendidikan, apalagi subversi politik kekuasaan sebagaimana terjadi selama ini di Indonesia.
Ketiga, ruang yang membebaskan adalah tempat di mana siswa memiliki keterikatan emosional terhadapnya; ruang yang didesain menjadi miliknya, bukan yang dirancang untuknya. Oleh sebab itu, ruang belajar harus didesain berbasis penelitian terhadap kebutuhan anak-anak dan remaja, bukan atas dasar projek pembangunan semata.
Keempat, karakter diri kreatif dibangun di atas konteks perilaku sosial budaya keseharian yang beragam dan kompleks. Desain ruang belajar sejatinya relevan dengan keragaman dan kompleksitas tersebut. Hal ini berarti bahwa desain ruang belajar modernis yang sekarang masih digunakan telah tidak kontekstual (kadaluarsa) mengingat paradigma kehidupan sosial budaya hari ini-terutama pada tingkat globaltelah jauh meningalkannya.
“Kelima, disadari bahwa sejarah peradaban Indonesia tidak berjalan linear, melainkan berkelindan dalam kompleksitas, berhubungan sekaligus juga saling bertengan satu lain. Di sini, tradisi dan modernitas dapat hidup berdampingan. Oleh sebab itu, dalam perancangan desain ruang belajar, penggalian dan pemberian nilai baru pada tradisi penting dilakukan. Alih-alih, hal ini justeru yang menjadi karakter posmodernitas,” jelasnya.
Orasi ilmiah FGB ITB tersebut juga diikuti oleh tiga orang orator lain, yakni Prof. Ir. Gatot Yudoko, M.A.SC., Ph.D. yang membawakan topik ‘Peran Strategi Operasi Berkelanjutan dalam Mendukung Daya Saing Organisasi Indonesia, Prof. Dr. Eng. Herman, M.S. dengan topik FILM TIPIS ORGANIK: Fabrikasi, Karakterisasi dan Aplikasinya, dan Prof. Dr. Iriawati, M.Sc. dengan topik orasi ‘Eksplorasi Komprehensif Biosains Tumbuhan: Struktur, Pemuliaan, dan Inovasi Terapi Nanomedis.*
















