Catatan: Tatang Suherman
BICARA soal karir, Naniek S Deyang sudah berada di puncak sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Sayangnya, puncak karir itu bukan tempat untuk menikmati akhir dari perjalanan panjang seorang jurnalis, melainkan kursi panas. Ibarat duduk di atas bara api, itulah kursi yang tengah diduduki Deyang saat ini.
Memimpin Badan atau lembaga yang memiliki tujuan mulia tersebut bagi Naniek Deyang seharusnya bisa menjadi momentum yang cukup strategis untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dengan menjadikan anak anak Indonesia terpenuhi gizinya seperti tertuang dalam tujuan mulyanya itu.
Tapi seperti diketahui, baru sehari dilantik oleh Presiden Prabowo sorotan tajam berbau negatif dari berbagai kalangan sudah mengarah pada dirinya. Diawali dengan surat berisi sindiran nyinyir dari Sony Senjaya, salah seorang tersangka kasus korupsi di BGN, disusul cuitan penasehat hukum Elsa Syarif yang menyebut Deyang masuk daftar yang disebut sebut terlibat dalam sindikat korupsi berjamaah di BGN.
Tidak main main duit MBG yang dikorupsi diduga mencapai Rp 19,8 triliun. Jumlah yang sangat besar. Kalau dipergunakan untuk membangun sekolah atau infrastruktur jalan di desa desa kemungkinan tidak akan ada lagi siswa yang menuju sekolah harus menyebrang sungai dengan bergelantungan di atas tali. Atau para siswa belajar di bangunan lapuk dsb.
Korupsi MBG memang bukan bicara soal duit saja melainkan soal rendahnya moralitas bangsa.
Terlepas dari benar tidaknya tudingan terhadap Deyang, faktanya dengan disebutnya nama dia dalam daftar, maka, pengaruhnya cukup besar terutama pada tingkat kepercayaan publik.
Akankah Deyang mampu menjawab ketidak percayaan publik dengan kerja transparan dan akuntabel? Kata kuncinya adalah “sukses tanpa korupsi”. Publik menunggu langkah Deyang di tengah gelombang protes yang meminta program MBG (makan gizi gratis) ditutup permanen.
HANYA URUS MEDIA
Deyang dalam sebuah wawancara yang di upload di platform tiktok mengaku tidak pernah mengetahui soal pengaturan titik MBG, pengadaan motor, atau belanja berbagai kebutuhan yang tidak terkait langsung dengan MBG.
Setiap rapat pun dia mengaku tidak pernah diajak. Dia hanya diminta mengurusi media.
Jadi, menurut Deyang, apa yang dilakukan para tersangka sama sekali dia tidak mengetahuinya. Semoga saja benar!
Yang pasti Sony Sonjaya, mantan Wakil Ketua BGN, salah satu tersangka utama sekaligus whistleblower, menyebut nama Deyang. Sony merupakan bukti bahwa di tengah jaringan bandit, selalu ada individu yang berani membuka tabir. ***
















