terasjabar.id
Selasa, 16 Juni 2026
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Indeks
No Result
View All Result
terasjabar.id
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Indeks
Selasa, 16 Juni 2026
No Result
View All Result
terasjabar.id
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Mengukur Masa Depan Anak dengan Angka Tunggal: Kekeliruan Besar Sekolah Maung

Tiah SM by Tiah SM
8 Jun 2026 15:08
in Berita Utama, Wakil Rakyat
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Mengukur Masa Depan Anak dengan Angka Tunggal: Kekeliruan Besar Sekolah Maung

Eko Kurnianto W, Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Bandung

Oleh : Eko Kurnianto W, Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Bandung

TERASJABAR.ID – Demam IQ 130 sedang melanda Jawa Barat. Sejak Sekolah Maung diumumkan sebagai sekolah unggulan gagasan Gubernur Dedi Mulyadi, orangtua ramai-ramai memburu tes IQ demi mengejar satu angka yang dianggap sakral: 130. Angka itu dijadikan syarat minimum masuk ke puluhan SMA dan SMK negeri favorit.

Sekilas, kebijakan ini tampak ambisius—ingin melahirkan generasi unggul dan kompetitif. Namun jika ditelaah lebih dalam, kebijakan ini justru memperlihatkan cara pandang pendidikan yang sempit, elitis, dan berbahaya.

Masalah utamanya sederhana: negara sedang mencoba menyederhanakan kompleksitas manusia menjadi satu skor psikometri.

ADVERTISEMENT

Dalam psikologi modern, IQ 130 bukan sekadar label “anak hebat”. Itu adalah kategori khusus giftedness atau keberbakatan intelektual istimewa—kelompok yang jumlahnya sangat kecil, sekitar 2 persen populasi. Mereka bukan sekadar siswa pintar yang bisa dijejali lebih banyak tugas dan target akademik. Banyak anak gifted justru mengalami kecemasan, isolasi sosial, perfeksionisme ekstrem, hingga kesulitan adaptasi di sekolah biasa.

Artinya, ketika pemerintah menjadikan IQ 130 sebagai tiket masuk sekolah unggulan, pemerintah sebenarnya sedang memainkan konsep psikologi yang bahkan belum tentu dipahaminya secara utuh.

RELATED POSTS

Anak Tetap Bisa Berinternet, Tetapi Harus Terlindungi dari Risiko Digital

Tips Menambah Nafsu Makan Anak dengan Efektif, Bunda Wajib Tahu!

Ini Gejala Campak pada Anak, Para Orang Tua Wajib Tahu!

Waspadai Diare pada Anak, Ini Tanda dan Cara Mengatasinya

Anak Sulit Bersosialisasi? Kenali Gejala Sindrom Asperger

Ironisnya, Sekolah Maung tidak dirancang sebagai sekolah gifted. Tidak ada pembahasan serius tentang kurikulum diferensiasi, layanan psikologi pendidikan, pendampingan sosio-emosional, ataupun guru dengan kompetensi gifted education. Yang muncul justru seleksi angka. Negara sibuk menyaring, tetapi belum siap mendidik.

Di sinilah letak persoalan politiknya.

Kebijakan ini memperlihatkan watak lama birokrasi pendidikan Indonesia: obsesi pada penyaringan elit, bukan pemerataan kualitas. Pendidikan kembali diposisikan sebagai alat klasifikasi sosial. Anak-anak dipilah sejak awal—mana yang dianggap “unggul”, mana yang dianggap tidak cukup layak.

Ini mengingatkan publik pada semangat lama RSBI: sekolah negeri rasa kasta, dibungkus jargon mutu dan daya saing global.

Padahal sejarah sudah memberi pelajaran. Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dibatalkan Mahkamah Konstitusi pada 2013 karena dianggap menciptakan diskriminasi pendidikan dan bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dalam konstitusi. Saat itu, negara dinilai gagal menjaga pendidikan sebagai hak publik yang setara.

Kini logika serupa muncul kembali, hanya dengan kemasan berbeda. Dulu pemisahnya bahasa Inggris dan biaya mahal. Hari ini pemisahnya angka IQ.

Kita juga perlu jujur melihat dampak sosialnya. Ketika skor IQ dijadikan gerbang mobilitas pendidikan, pasar akan bergerak liar. Lembaga tes psikologi akan kebanjiran permintaan. Orangtua kelas menengah atas akan berlomba mencari “jalan belakang” demi menaikkan skor anaknya—mulai dari latihan tes intensif hingga praktik manipulasi hasil.

Sementara itu, anak-anak dari keluarga biasa yang mungkin memiliki daya juang, kreativitas, kepemimpinan, empati sosial, atau kecerdasan sosial tinggi akan tersingkir hanya karena gagal memenuhi standar angka tertentu.

Ini bukan meritokrasi. Ini ilusi objektivitas.

Tes IQ memang memiliki fungsi ilmiah, tetapi bukan alat tunggal untuk menentukan masa depan pendidikan anak. Manusia terlalu kompleks untuk direduksi menjadi satu skor. Banyak riset pendidikan menunjukkan bahwa faktor grit, karakter, motivasi belajar, dukungan keluarga, dan kualitas lingkungan belajar jauh lebih menentukan keberhasilan hidup dibanding skor IQ semata.

Anak dengan IQ 115 tetapi memiliki disiplin, karakter kuat, empati sosial, dan motivasi belajar tinggi bisa jauh lebih berhasil dibanding anak dengan IQ 135 yang kehilangan arah hidup.

Sayangnya, kebijakan seperti ini lahir dari logika politik pencitraan: pendidikan diperlakukan seperti proyek branding kekuasaan. Yang dikejar adalah simbol “unggul”, bukan pembangunan sistem pendidikan yang benar-benar sehat dan merata.

Angka IQ tinggi menjadi komoditas politik karena mudah dijual ke publik sebagai standar mutu, meski secara ilmiah rapuh dan secara sosial problematik.

Padahal tantangan pendidikan Jawa Barat hari ini jauh lebih mendasar: ketimpangan kualitas sekolah, minimnya pemerataan guru berkualitas, rendahnya akses layanan psikologi pendidikan, tingginya angka bullying, hingga ancaman putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga.

Namun alih-alih memperkuat fondasi pendidikan secara menyeluruh, pemerintah justru sibuk membangun simbol eksklusivitas baru.

Sekolah unggulan semestinya dibangun dengan memperkuat kualitas guru, memperbaiki ekosistem belajar, memperluas akses psikolog pendidikan, dan menciptakan ruang tumbuh bagi beragam jenis kecerdasan. Bukan dengan menyempitkan definisi unggul hanya pada hasil tes kognitif.

Karena pada akhirnya, bangsa besar tidak dibangun hanya oleh anak-anak dengan skor IQ tinggi. Bangsa besar dibangun oleh manusia yang tangguh, kreatif, berintegritas, mampu bekerja sama, dan punya keberanian moral.

Dan semua itu tidak pernah bisa diukur hanya dengan angka 130.

Tags: AnakAngka TunggalMasa Depan
ShareTweetSend

Related Posts

Anak Tetap Bisa Berinternet, Tetapi Harus Terlindungi dari Risiko Digital
News

Anak Tetap Bisa Berinternet, Tetapi Harus Terlindungi dari Risiko Digital

15 Jun 2026 15:23
Tips Menambah Nafsu Makan Anak dengan Efektif, Bunda Wajib Tahu!
Kesehatan

Tips Menambah Nafsu Makan Anak dengan Efektif, Bunda Wajib Tahu!

13 Jun 2026 21:00
Ini Gejala Campak pada Anak, Para Orang Tua Wajib Tahu!
Lifestyle

Ini Gejala Campak pada Anak, Para Orang Tua Wajib Tahu!

6 Jun 2026 21:00
Waspadai Diare pada Anak, Ini Tanda dan Cara Mengatasinya
Kesehatan

Waspadai Diare pada Anak, Ini Tanda dan Cara Mengatasinya

1 Jun 2026 18:23
Anak Sulit Bersosialisasi? Kenali Gejala Sindrom Asperger
Kesehatan

Anak Sulit Bersosialisasi? Kenali Gejala Sindrom Asperger

1 Jun 2026 13:47
Rotavirus, Penyebab Utama Diare Berat pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Kesehatan

Rotavirus, Penyebab Utama Diare Berat pada Anak yang Perlu Diwaspadai

31 Mei 2026 20:57
Next Post
Seren Taun Jadi Ikon Budaya Kuningan Hingga Dikenal Wisatawan Mancanegara

Seren Taun Jadi Ikon Budaya Kuningan Hingga Dikenal Wisatawan Mancanegara

Kemenperin dan YBI Perkuat Daya Saing IKM Batik Lewat Efisiensi Produksi

Kemenperin dan YBI Perkuat Daya Saing IKM Batik Lewat Efisiensi Produksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gaji 3,5 Juta! PT Putra Mutiara Jaya Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

Gaji 3,5 Juta! PT Putra Mutiara Jaya Bandung Buka Loker Buat Lulusan SMA SMK

11 Jun 2026 16:39
Untuk Lulusan SMA SMK! Gramedia Bandung Buka Loker Teranyar

Untuk Lulusan SMA SMK! Gramedia Bandung Buka Loker Teranyar

11 Jun 2026 17:23
Buat Lulusan SMA SMK! PT Knitto Tekstil Bandung Buka Loker Operator Gudang

Buat Lulusan SMA SMK! PT Knitto Tekstil Bandung Buka Loker Operator Gudang

7 Jun 2026 16:24
Gaji 5,5 Juta! PT Lotus Lingga Pratama Bandung Buka Loker Staff Produksi

Gaji 5,5 Juta! PT Lotus Lingga Pratama Bandung Buka Loker Staff Produksi

5 Jun 2026 16:11
Mahasiswa Majalengka Geruduk DPRD, Kritik Kenaikan BBM dan Kebijakan Pemerintah

Mahasiswa Majalengka Geruduk DPRD, Kritik Kenaikan BBM dan Kebijakan Pemerintah

0
Piala Dunia 2026: Iran Andalkan Taremi untuk Tumbangkan Selandia Baru

Piala Dunia 2026: Iran Andalkan Taremi untuk Tumbangkan Selandia Baru

0
AS Roma Temukan Kandidat Ideal di Inggris, Savona Masuk Daftar Belanja

AS Roma Temukan Kandidat Ideal di Inggris, Savona Masuk Daftar Belanja

0
Prancis Tak Boleh Remehkan Senegal, Ini Alasannya

Prancis Tak Boleh Remehkan Senegal, Ini Alasannya

0
Mahasiswa Majalengka Geruduk DPRD, Kritik Kenaikan BBM dan Kebijakan Pemerintah

Mahasiswa Majalengka Geruduk DPRD, Kritik Kenaikan BBM dan Kebijakan Pemerintah

16 Jun 2026 05:25
Piala Dunia 2026: Iran Andalkan Taremi untuk Tumbangkan Selandia Baru

Piala Dunia 2026: Iran Andalkan Taremi untuk Tumbangkan Selandia Baru

15 Jun 2026 23:11
AS Roma Temukan Kandidat Ideal di Inggris, Savona Masuk Daftar Belanja

AS Roma Temukan Kandidat Ideal di Inggris, Savona Masuk Daftar Belanja

15 Jun 2026 22:54
Prancis Tak Boleh Remehkan Senegal, Ini Alasannya

Prancis Tak Boleh Remehkan Senegal, Ini Alasannya

15 Jun 2026 22:36

Teras Arsip

  • About
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Sertifikat JMSI
Hubungi Kami : [email protected]

© 2025 Teras Jabar - dari Jawa Barat untuk Indonesia. All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • News
  • Bandung Raya
  • Lifestyle
  • Persib
  • Sport
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Berita Bank bjb
  • Wakil Rakyat
  • Opini
  • Indeks Berita

© 2025 Teras Jabar - dari Jawa Barat untuk Indonesia. All Rights Reserved.