TERASJABAR.ID – Serangan pesawat nirawak memicu kebakaran di fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab pada Minggu.
Otoritas setempat menyatakan sedang menyelidiki asal serangan tersebut, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendesak Iran agar segera mengambil langkah damai di tengah mandeknya upaya penghentian konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Pemerintah UEA menyebut serangan itu sebagai tindakan teroris dan menegaskan pihaknya memiliki hak untuk memberikan respons.
Seorang penasihat diplomatik Presiden UEA menilai insiden tersebut sebagai eskalasi serius, baik dilakukan langsung oleh pihak utama maupun kelompok proksi.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan dua drone lain berhasil dicegat setelah memasuki wilayah dari arah perbatasan barat.
Sementara itu, Arab Saudi mengaku berhasil menghancurkan tiga drone yang melintas dari wilayah udara Irak dan menegaskan siap mengambil tindakan untuk menjaga keamanan nasionalnya.
Meski gencatan senjata antara Iran dan pihak lawan mulai berlaku sejak April, ketegangan di kawasan Teluk masih berlanjut.
Beberapa drone sebelumnya juga dilaporkan diluncurkan dari Irak menuju negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait.
Drone yang lolos dari sistem pertahanan UEA menghantam generator listrik di luar area inti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah.
Otoritas Abu Dhabi memastikan tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menyatakan fasilitas tersebut tetap aman, dengan pasokan listrik darurat masih berfungsi normal.
Konflik yang bermula sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari terus menimbulkan ketidakstabilan regional.
Iran sebelumnya beberapa kali menyerang negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk sasaran infrastruktur energi dan sipil.
Ketegangan meningkat setelah Trump mengumumkan operasi angkatan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Namun, misi tersebut dihentikan hanya dua hari kemudian.
Hingga kini, negosiasi damai masih menemui jalan buntu.
Washington menuntut Iran membatasi program nuklir dan menghentikan kendali terhadap Selat Hormuz.
Sebaliknya, Teheran meminta kompensasi perang, pencabutan blokade pelabuhan, dan penghentian konflik di berbagai wilayah termasuk Lebanon.
Trump kembali menekan Iran melalui unggahan di Truth Social dengan menyebut waktu bagi Teheran semakin sempit.
Di sisi lain, militer Iran memperingatkan bahwa ancaman AS akan memicu respons yang lebih agresif dan tidak terduga.
Gangguan di Selat Hormuz sendiri telah memicu lonjakan harga energi global akibat terganggunya distribusi minyak dan gas internasional.-***















