TERASJABAR.ID – Ledakan besar mengguncang ruang mesin kapal tanker MKD Vyom pada pagi 1 Maret 2026 saat kapal itu berlayar di kawasan Teluk Oman.
Seorang pelaut bernama Basis mengungkapkan detik-detik mengerikan ketika gelombang kejut dan bola api menghantam kapal tanpa peringatan di tengah meningkatnya konflik antara AS, Israel, dan Iran.
“Selama satu atau dua detik, saya pingsan. Semuanya menjadi gelap. Listrik padam. Saya mendongak, api dan asap hitam tebal mengepul. Ruang mesin hancur total. Ada pipa-pipa logam, penutup isolasi, tangki-tangki, semuanya hancur berantakan. Pintu tahan api setebal 2 cm, jendela-jendela kaca, hancur, semuanya hilang. Saya berpikir: ‘Saya masih hidup. Saya harus keluar dari sini.’” demikian cerita Basis, sepeti ditulis The Guardian pada Jumat, 8 Mei 2026.
Basis mengatakan ledakan tersebut membuat listrik kapal padam total dan ruang mesin hancur berantakan.
Dalam kondisi gelap dan dipenuhi asap tebal, ia berusaha menyelamatkan diri sambil menahan sesak napas.
Berbekal pengalaman dan hafal struktur kapal, ia akhirnya berhasil mencapai anjungan setelah beberapa kali hampir pingsan.
Kapal berbendera Kepulauan Marshall itu sedang menuju Ras Tanura, Arab Saudi, dari Amsterdam melalui Selat Hormuz.
Saat kejadian, kapal berada lebih dari 100 mil dari wilayah Iran dan sebelumnya diperintahkan berhenti sambil menunggu instruksi keamanan.
Di tengah upaya penyelamatan, awak kapal menyadari seorang kru asal India, Dixit Solanki, hilang di ruang mesin yang masih terbakar.
Dengan peralatan seadanya, para pelaut berusaha memadamkan api selama empat jam sebelum menemukan Solanki tewas tertimpa reruntuhan logam.
Situasi semakin kritis karena kapal mengangkut sekitar 60 ribu ton bensin.
Kapten akhirnya memerintahkan evakuasi setelah api kembali menyebar ke area tangki bahan bakar.
Basis mengaku meninggalkan rekannya di kapal menjadi pengalaman paling berat dalam hidupnya.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, sedikitnya 10 pelaut dilaporkan tewas dalam puluhan serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz.
Banyak awak kapal kini masih terjebak di kawasan tersebut dengan pasokan makanan dan komunikasi yang terbatas.-***















