TERASJABAR.ID – Respons positif langsung datang dari pelanggan untuk Mie Baso Pangsit Legend MS by Mas Miskam. Meski baru beroperasi sekitar empat bulan, kedai ini sudah ramai diserbu pembeli—baik pelanggan lama maupun penikmat kuliner baru.
Salah satunya Putri, warga Baleendah, yang mengaku terpikat dengan cita rasanya. Ia menyebut menu seperti bakso goreng dan Yamin komplit sangat cocok di lidahnya.
“Saya biasanya makan mie tidak pernah habis, tapi mie Miskam kok bisa habis. Saya juga heran, apa karena lapar atau enak. Pastinya enak,” ujarnya.
Tak hanya Putri, mantan kiper Timnas Indonesia, Markus Horison, juga mengakui kelezatan menu yang disajikan. Kini yang juga melatih kiper Persib U-20 itu bahkan mengajak rekan-rekannya mencicipi, termasuk Fasya dan model asal Bandung, Khalisa. Mereka tampak menikmati menu bihun kuah dengan campuran bakso gepeng dan bakso goreng—menu andalan di tempat ini.
Di tengah menjamurnya usaha kuliner berbasis mesin, kedai milik Mas Miskam ini justru bertahan dengan cara tradisional. Berlokasi di Gedung Braga 8, Jalan Cikapundung Barat, Kota Bandung, seluruh mi diproduksi secara manual tanpa mesin.
Mas Miskam menuturkan, proses pembuatan mi masih menggunakan alat berbahan bambu untuk menghasilkan aroma yang lebih wangi dan tekstur yang khas..
“Kita sengaja masih manual, karena lebih yakin hasilnya. Mienya juga kita buat lebih kecil, tapi padat dan kenyal,” katanya.
Ukuran mi yang dibuat berkisar 1–1,2 milimeter, sehingga tetap kuat meski direbus lebih lama dan tidak mudah lembek. Bahkan, ia menyebut produknya relatif lebih ramah bagi penderita maag.
Tak hanya mi, bahan baku bakso juga dipilih secara khusus menggunakan daging paha tanpa pengawet. Bakso tersebut diklaim bisa bertahan hingga tiga minggu dalam kondisi tersimpan di kulkas tanpa freezer.
Menu andalan di kedai ini adalah Yamin Manis Komplit dengan isian bakso gepeng, pangsit, dan bakso. Meski topping tidak berlebihan, kekuatan utama tetap pada cita rasa. Kuah yang disajikan pun tidak menggunakan saus agar rasa asli tetap terjaga.
Dalam sehari, produksi mi dibatasi sekitar 50 kilogram untuk memenuhi dua lokasi usaha, yakni di kawasan Braga dan Cijerah. Di Braga, pasar utama adalah pekerja kantoran, sementara di Cijerah lebih didominasi warga perumahan.
Nama Mas Miskam sendiri bukan sosok baru di dunia perbakmiean Bandung. Ia memulai karier sejak 1989 dengan belajar di Mie Encek. Pada 1995, ia mulai merintis usaha sendiri dengan gerobak yang berkeliling di kawasan Lodaya, Banteng, hingga Burangrang, sebelum akhirnya memiliki kedai tetap di Talaga Bodas pada awal 2000-an.
Pada 2010-an, usahanya berkembang dengan membuka cabang di Kosambi dan Miko Mall. Namun pada 2017, ia memutuskan hiatus dan menyerahkan brand lamanya kepada keluarga untuk fokus pada kegiatan lain.
Kini, melalui brand baru Mie Baso Pangsit Legend MS, Mas Miskam kembali hadir membawa racikan khasnya. Usaha ini mulai dirintis kembali sejak 2021 di Cijerah, lalu resmi membuka kedai pada 2023. Cabang di pusat kota Bandung, Gedung Braga 8, dibuka pada November 2025.
Ia pun menegaskan bahwa Legend MS adalah satu-satunya brand yang kini berada langsung di bawah kendalinya.
“Brand lama sudah saya hibahkan ke keluarga. Kalau yang sekarang, ini racikan saya sendiri,” ujarnya.
Dengan konsep sederhana, produksi terbatas, dan rasa yang konsisten, Mie Baso Pangsit Legend MS terus menarik perhatian di tengah ketatnya persaingan kuliner di Kota Bandung.


















