TERASJABAR.ID – Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk kawasan Mediterania Timur menegaskan bahwa penghentian total permusuhan di Timur Tengah sangat dibutuhkan untuk menghentikan krisis kesehatan yang kini terjadi secara nyata.
Direktur regional WHO, Dr. Hanan Balkhy, menekankan bahwa rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus diperlakukan sebagai tempat yang aman dan tidak boleh menjadi sasaran serangan.
Menurutnya, situasi di kawasan yang mencakup 22 negara dan wilayah, seperti Iran, negara-negara Teluk, Gaza, Sudan, Afghanistan, dan Pakistan, telah berkembang menjadi krisis kesehatan regional.
“Situasinya sudah cukup sulit selama beberapa waktu, tetapi apa yang kita lihat hari ini hanyalah krisis kesehatan regional nyata yang terjadi secara langsung di berbagai bagian wilayah ini. Ini bukan hanya tentang nyawa yang hilang. Ini tentang runtuhnya akses [ke layanan kesehatan] dalam banyak, banyak dimensi yang jauh melampaui apa yang kita bayangkan,” kata Balkhy, seperti ditulis The Guardian pada Kamis, 26 Maret 2026.
Ia juga menyebut bahwa banyak pasien penyakit kronis tidak lagi mendapatkan pengobatan karena rumah sakit tutup dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Balkhy juga mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap kemungkinan serangan pada fasilitas nuklir dan pabrik desalinasi air.
Jika fasilitas tersebut diserang, dampaknya bisa sangat besar, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan air bersih.
WHO saat ini tengah memperbarui pedoman dan bersiap menghadapi kemungkinan dampak kesehatan yang lebih luas.
Ia menambahkan bahwa dampak konflik ini akan terasa dalam jangka panjang, termasuk meningkatnya angka kematian ibu, gangguan kesehatan mental, serta banyaknya anak yang kehilangan keluarga dan akses pendidikan.
Karena itu, WHO mendesak semua pihak untuk segera melakukan de-eskalasi dan melindungi sektor kesehatan dari serangan.-***

















