Donald Trump menjadi public enemy. Musuh bersama. Hampir seluruh rakyat di berbagai belahan dunia mengecam Trump sebagai figur haus perang. Negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO dan menjadi sekutu AS, mengecam Trump sebagai figur “bodoh” yang jadi biang kerok kekacauan dunia. Jerman, Spanyol, Inggris’, Italy, menolak ajakan Trump untuk mengirim kapal perang ke Teluk Hormuz. Bahkan, beberapa pemimpin Eropa mengajak negara negara di Eropa tak lagi melibatkan AS dalam sekutu. “Secara geografis kita lebih dekat dengan Rusia, bukan Amerika,” ujar salah seorang pejabat negara Sepanyol.
Negara negara besar di Asia dan Timur mulai berani melawan dan mengecam Trump. Vladimir Putin, Presiden Rusia, l meminta Trump supaya menarik mundur armada perangnya di kawasan Teluk. Xi Jinping, Presiden Cina, lebih keras lagi, meminta Trump berhenti mendukung Israel dan meminta Israel menghentikan serangan terhadap Iran. Begitu juga dengan Jepang. Malaysia malah langsung memutus hubungan perjanjian dagang dengan AS sebagai protes atas prilaku Donald Trump.
Negara-negara di kawasan Teluk yang menjadi sekutu AS: Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Irak, dan Mesir, bersikap pasif meskipun beberapa wilayah negaranya terkena imbas serangan Iran ke pangkalan -pangkalan AS di kawasan tersebut.
Kelompok masyarakat sipil di banyak belahan dunia turun ke jalan mengecam tindakan Donald Trump menyerang Iran. Di dalam negeri sendiri rakyat di kota -kota besar Amerika turun ke jalan, memprotes kebijakan ikut menyerang Iran. Sebagian menyerebu rumah pribadi Trump dan menuntut agar Trump berhenti membantu Israel. “Israel bukan bagian dari Amerika, kenapa harus ikut campur,” ujar salah seorang warga AS. “Jika Trump ingin terus perang dengan Iran, coba kirim ketiga anak lelakinya, Donald Trump Jr, Eric Trump dan Baron Trump, ikut perang. Berani gak!” ujar warga AS yang lain.
Sebagian warga elite AS juga memprotes sikap Trump. Aktor dan aktris Hollywood Robert de Niro (pemeran utama film Godfather), Mark Ruffalo (pemeran utama film Hulk), Jennifer Lawrance, Rob Reiner, memprotes langkah kebijakan Trump, terutama kebijakan luar negerinya di Teluk dan menyebut Trump sebagai diktator.
Sebagian pejabat Pentagon juga menolak langkah Trump di Teluk. Joe Kent, direktur pusat kontraterorisme nasional AS, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai sikap tidak setuju atas kebijakan Donald melibatkan AS dalam konflik di Teluk Hormuz. Mark Milley, jendral top. kepala staf gabungan militer AS, juga mundur setelah bersitegang dengan Trump mengenai kebijakan luar negeri AS di kawasan Teluk.
Ada banyak alasan yang membuat sikap sebagian masyarakat global menolak Trump. Pertama, konflik di kawasan Teluk mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Kawasan tersebut salah satu jantung ekonomi dunia. Lebih dari 20 persen kebutuhan minyak dunia dipasok dari jalur Hormuz. Ketiga, tindakan Trump membantu Israel tidak punya alasan, tak punya dasar, karena itu serangan AS ke Iran dianggap oleh negara sekutu termasuk tindakan ilegal. Ketiga, Trump dianggap sedang mengalihkan perhatian warga dunia atas aib moral pribadinya yang bobrok, terlibat dalam kasus seksual dengan perempuan di bawah umur sebagaimana dipublis secara gamblang dalam Epstein Files. Keempat, masyarakat dunia membutuhkan dan merindukan kedamaian serta persaudaraan sesama masyarakat global. Trump dianggap monster yang mengancam perdamaian dunia.
Lalu, bagaimana dengan sikap dan respon Presiden Prabowo dan pemerintah RI yang sudah menjadi anggota Board of Peace (BoP) terhadap prilaku Trump seperti itu?!
Get the feeling
Mr. Ten
















