Oleh : Subchan Daragana / Muslim
Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid yang sebelumnya tidak terlalu ramai mendadak penuh. Orang-orang yang jarang terlihat datang untuk shalat malam kini duduk lama dengan mushaf di tangan. Ada yang memilih berdiam diri di masjid untuk i’tikaf, memperbanyak dzikir, doa, dan tilawah.
Seolah-olah seluruh energi spiritual umat Islam berkumpul pada malam-malam itu.
Semua berharap satu hal: bertemu dengan Lailatul Qadr, malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik dari seribu bulan.
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tahun. Hampir sepanjang umur manusia. Artinya, satu malam itu memiliki nilai spiritual yang melampaui perjalanan hidup seseorang dalam ukuran pahala.
Tidak heran jika banyak orang berusaha mengejarnya dengan kesungguhan yang luar biasa. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan yang sangat kuat. Dalam riwayat Aisyah r.a. disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah mengencangkan ibadahnya, menghidupkan malam dengan shalat, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan setelah Ramadhan berlalu.
Jika seseorang begitu bersungguh-sungguh mengejar Lailatul Qadr, seberapa jauh malam itu benar-benar mengubah hidupnya setelahnya?,
Karena pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang pada sepuluh malam terakhir terlihat sangat dekat dengan Allah, tetapi beberapa minggu setelah Ramadhan berakhir ritme ibadahnya kembali seperti sebelumnya.
Masjid kembali sepi.
Al-Qur’an kembali tertutup.
Shalat malam kembali jarang dilakukan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Para ulama terdahulu sudah lama memperhatikannya.
Seorang ulama besar, Ibn Rajab al-Hanbali, pernah mengingatkan bahwa jangan sampai seseorang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan. Sebab Rabb Ramadhan adalah Rabb sepanjang tahun.
Seorang tabi’in besar, Hasan al-Basri, bahkan pernah berkata dengan kalimat yang sangat tajam: “betapa buruknya suatu kaum yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan.”
Kalimat ini bukan untuk merendahkan orang yang beribadah di bulan Ramadhan, melainkan untuk mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah tidak boleh berhenti pada satu musim spiritual saja.
Al-Qur’an sendiri memberikan prinsip yang sangat jelas tentang ritme ibadah manusia.
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)














