Oleh: Albertus M. Patty
Dunia pernah jungkir balik ketika pandemi Covid datang seperti tamu tak diundang yang masuk rumah tanpa mengetuk pintu. Banyak orang panik, ekonomi terengah-engah, dan suasana global terasa seperti ayam kampung yang ketahuan mencuri nasi lalu dikejar warga satu RT.
Anehnya, di tengah kekacauan itu, tidak semua orang kehabisan akal. Sebagian orang justru menemukan celah, kecil tapi nyata, seperti air hujan yang tetap bisa merembes lewat tembok beton yang katanya sudah diplester rapat oleh tukang paling mahal di kompleks.
Ketika orang dilarang berkumpul, manusia tidak tiba-tiba berubah menjadi patung taman. Mereka mencari cara lain. Lahirlah rapat Zoom, ibadah online, kuliah digital, bahkan acara ulang tahun yang dihadiri lebih banyak layar laptop daripada manusia asli.
Manusia memang punya bakat unik: kalau pintu ditutup, dia tidak berhenti. Dia akan cari jendela. Kalau jendela ditutup, dia bongkar genteng.
Sejarah menunjukkan hal yang sama. Setiap krisis besar sering kali justru melahirkan inovasi. Kreativitas manusia kadang mengalir deras saat situasi genting. Mirip lahar panas gunung berapi yang tiba-tiba memaksa semua orang berlari sambil berpikir keras: “Habislah… tapi mungkin kita bisa bikin sesuatu dari ini.”
Nah, sekarang dunia sedang menghadapi drama baru: krisis energi. Biangnya ada di sebuah tempat kecil bernama Selat Hormuz. Panjangnya cuma sekitar 34 kilometer, tidak jauh-jauh amat dibanding jarak orang Jakarta yang tiap hari menempuh perjalanan dari rumah ke kantor sambil mikirin bagaimana bayar cicilan pinjol.
Tetapi selat kecil ini punya peran besar: sekitar 20 persen energi dunia lewat situ.
Bayangkan saja, Selat Hormuz itu seperti kerongkongan seseorang yang sedang makan sosis terlalu besar. Kalau tersangkut lama, wajahnya langsung merah, matanya melotot, dan semua orang di meja makan panik mencari air putih.
Begitu juga dunia. Kalau “kerongkongan energi” ini tersumbat, ekonomi global bisa megap-megap seperti motor tua yang kehabisan bensin di tengah tanjakan.
Masalahnya, minyak bumi bukan sekadar urusan mobil dan motor. Ia adalah darah yang mengalir dalam hampir semua sistem produksi. Tanpa energi, pabrik berhenti. Transportasi macet. Distribusi barang tersendat. Ujungnya PHK lagi.
Situasinya mirip tubuh manusia yang tiba-tiba terkena stroke: tangan tidak bergerak, kaki tidak patuh, dan seluruh sistem mendadak kacau.
Namun seperti krisis sebelumnya, momen ini sebenarnya juga menyimpan peluang. Krisis sering kali seperti alarm pagi hari. Memang menyebalkan, tapi kalau tidak berbunyi kita bisa terus tidur dan terlambat ke kantor. Krisis energi ini sedang membangunkan dunia dari tidur panjang ketergantungan pada minyak bumi.
Negara-negara yang cerdas mulai berpikir: “Kalau satu kran macet, kita harus punya banyak kran lain.”
China, misalnya, sudah bergerak cepat. Mobil-mobil produksi mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bensin. Banyak yang sudah memakai baterai lithium. Jadi, kalau suatu hari pom bensin tutup, mobil mereka tidak langsung berubah jadi pajangan halaman rumah.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan bahan untuk melakukan hal yang sama. Kita punya air yang mengalir dari ribuan sungai, angin yang bertiup dari laut, ombak yang tidak pernah capek menghantam pantai, dan cadangan nikel yang membuat banyak negara melirik seperti tetangga yang mengintip dapur kita saat mencium aroma rendang.
Artinya, bahan bakunya ada. Potensi ada. Yang sering kurang hanyalah satu hal sederhana tapi mahal harganya: kemauan pemerintah mendorong kreativitas dan inovasi anak bangsa. Padahal kalau diberi ruang, orang Indonesia itu kreatifnya luar biasa.
Di negara lain orang membuat kendaraan listrik. Di Indonesia, orang bisa membuat gerobak bakso yang sekaligus jadi dapur, restoran, dan kantor cabang keliling. Bayangkan kalau kreativitas seperti itu diarahkan pada inovasi energi.
Krisis energi ini seharusnya menjadi pelecut. Bukan untuk panik, tetapi untuk berpikir lebih serius. Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal:
Bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang hidup tanpa krisis.
Melainkan bangsa yang ketika dunia tersedak, dia sudah menyiapkan sedotan cadangan.
Bandung,
12 Maret 2026















