TERASJABAR.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyiapkan langkah-langkah mitigasi strategis untuk mengantisipasi dampak konflik di Timur Tengah terhadap sektor pariwisata, khususnya terhadap arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi, terutama yang berkaitan dengan konektivitas penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah.
“Kita pantau terus. GM Bandara Bali menyampaikan bahwa terkait penerbangan ke Timur Tengah, dari lima maskapai yang beroperasi saat ini memang belum dapat terbang,” ujarnya, dikutip laman Kemenpar.
Meski terjadi gangguan pada sejumlah rute penerbangan, dampaknya terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali relatif kecil. Penurunan jumlah penerbangan tercatat hanya sekitar 0,5 persen.
Menurut Wamenpar, kondisi ini dimungkinkan karena sebagian wisatawan melakukan penyesuaian rute penerbangan melalui sejumlah hub alternatif di kawasan Asia, seperti Malaysia dan Singapura.
Malaysia dan Singapura selama ini memang menjadi simpul konektivitas utama penerbangan menuju Indonesia, disusul sejumlah hub lain di Asia seperti Hong Kong.
Berdasarkan data konektivitas penerbangan, proporsi terbesar berasal dari Malaysia sebesar 28 persen, diikuti Singapura 18 persen, kawasan Timur Tengah 11 persen, serta Hong Kong dan hub lainnya.
“Artinya, konektivitas kita masih didominasi oleh Malaysia dan Singapura,” kata Ni Luh Puspa.
















