TERASJABAR.ID – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
Volatilitas global diperkirakan rendah dengan potensi peningkatan pertumbuhan masih terbatas.
Menurut Menkeu, faktor global bukanlah penentu utama kinerja ekonomi Indonesia. Ini karena sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik, sementara kontribusi global hanya berkisar 10–20 persen.
Oleh karena itu, perlambatan ekonomi global tidak seharusnya dijadikan alasan atas lemahnya kinerja ekonomi dalam negeri.
“Kalau kita 90 persen domestic demand, 10 persen global atau lebih. Mungkin maksimal 15-20 persen. Kalau kita juga ada domestic demand, harusnya tidak ada masalah,” ungkap Menkeu pada Acara Indonesia Fiscal Forum 2026 di Jakarta, seperti dikutip laman resmi Kemenkeu.
Kondisi domestik Indonesia dinilai cukup solid. Inflasi tercatat rendah di kisaran 2,9 persen, dengan inflasi inti sekitar 2,3 persen. Bahkan, jika komponen harga emas dikeluarkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan permintaan masih terkendali dan belum memicu overheating ekonomi.
“Jadi sebetulnya demand-nya masih relatif rendah. Belum ada demand core inflation, artinya saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral atau karena inflasi naik dan Bank Sentral ingin memperlambat lagi,” jelas Menkeu.
















