TERASJABAR.ID – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan transformasi digital bukanlah sekadar luasnya jangkauan jaringan telekomunikasi, melainkan rasa aman dan manfaat nyata yang dirasakan seluruh warga dalam kehidupan sehari-hari.
“Konektivitas kita sudah hampir merata. Sekarang yang kita perlu melindungi manusianya, terutama kelompok anak-anak, orang tua, perempuan, dan penyandang disabilitas,” ujar Nezar dalam siaran pers Komdigi.
Ia menyampaikan hal itu pada Focus Group Discussion (FGD) Penajaman Program dan Modul Literasi Digital di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Wamen mengungkapkan seiring meningkatnya jangkauan jaringan 4G hingga mencapai 97,16 persen wilayah berpenghuni dan akses internet menjangkau sekitar 80 persen penduduk, maka risiko di ruang digital turut meningkat.
Berbagai ancaman seperti hoaks, penipuan, kekerasan berbasis digital, dan eksploitasi teknologi menjadi bahaya nyata, terutama bagi kelompok rentan.
“Internet membawa manfaat besar, tapi tanpa perlindungan, warga justru bisa menjadi korban. Negara harus hadir di titik ini,” tegasnya.
Nezar menyoroti lansia sebagai kelompok yang sering terdampak hoaks dan penipuan digital, seperti informasi palsu tentang kesehatan, bantuan sosial, hingga modus penipuan investasi yang beredar di grup pesan instan.
Ancaman baru juga datang dari penipuan berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dapat meniru wajah dan suara keluarga untuk meminta uang atau data pribadi.

















