TERASJABAR.ID.– Tragedi bencana banjir bandang di sejumlah penjuru tanah air, seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan musibah bencana di beberapa daerah termasuk kabupaten/kota Cirebon di kepung banjir belum lama ini, membuat cemas warga sekitar wilayah Kuningan, Majalengka dan Cirebon.
Seperti diketahui keberadaan gunung Ciremai, dengan ketinggian 3.078 mdpl kondisinya saat ini berpotensi terjadi longsor dan banjir. Kemungkinan terjadi bencana longsor ataupun banjir ini dikhawatirkan menjadi ancaman nyata bagi penduduk sekitar kawasan Gunung Ciremai. Potensi banjir tak hanya menyasar wilayah hulu melainkan sampai kehilir.
Berdasarkan data Kabupaten Kuningan pada periode tahun 2021-2024 kehilangan 140 hektar hutan alam. Sebagian berada di wilayah sensitif lereng dan hulu daerah aliran sungai. Menurut sumber yang layak dipercaya, angka ini mungkin kecil bagi investor namun sangat besar bagi tanah yang harus menahan hujan, akar yang seharusnya memegang lereng dan mata air yang jadi tumpuan hidup warga.
Manakala terjadi banjir bandang dari gunung Ciremai, diprediksi wilayah yang terdampak antara lain, Kuningan (wilayah barat dan utara) serta Majalengka (wilayah selatan) berada di garis depan dampak karena posisi geografisnya di kaki gunung.
Namun demikian, analisis peta aliran sungai menunjukkan bahwa Cirebon dan Indramayu pun tak luput dari bahaya sebagai daerah limpahan air (hilir).
Ancaman ini bukan tanpa sebab. Pasalnya Ciremai dengan ketinggian 3.078 mdpl ini, memiliki kombinasi faktor risiko yang krusial, ungkap sumber Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Secara Geografis Ekstrem : Lereng yang curam mempercepat laju air hujan dari puncak ke sungai-sungai di bawahnya.
Kerusakan Lingkungan: Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pembukaan wisata tanpa konservasi membuat tanah kehilangan daya serap.
Daya Rusak: Jika curah hujan ekstrem terjadi, air tidak akan turun sendirian, melainkan membawa material sedimentasi seperti lumpur, batu besar, dan kayu—fenomena yang lazim disebut banjir bandang.
Selain pemukiman dan infrastruktur pertanian, destinasi wisata populer di kaki Ciremai seperti Palutungan dan Linggarjati disebut sebagai titik yang sangat rentan terdampak. Oleh karena itu, mitigasi bencana tidak bisa ditunda.
Otoritas setempat perlu memperketat penjagaan tutupan hutan dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Indikator bahaya paling spesifik yang perlu diwaspadai warga adalah durasi hujan, jika hujan lebat mengguyur kawasan puncak lebih dari lima jam, sistem peringatan dini wajib segera diaktifkan demi keselamatan bersama.
Sementara itu, Maman Mazic Supratman aktivis lingkungan Kuningan dan mantan Ketua Aktivitas Anak Rimba (AKAR) menegaskan, sebenarnya Hutan itu tidak perlu DI URUS karena dia bisa mengurus dirinya sendiri. Adapun yang perlu diurus itu adalah perilaku manusianya. Pasalnya hutan tanpa manusia, hutan akan tetap tumbuh. Akan tetapi manusia tanpa hutan, manusia akan sulit untuk tumbuh, ujarnya Kamus (15/01/2026)
Isue lingkungan yang muncul belakangan ini telah memicu reaksi luar biasa dari berbagai pihak, ungkapnya.
Tanpa bermaksud membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, ini adalah sebuah momentum untuk menyamakan persepsi bahwa “Ciremai Harus Kita Jaga Bersama“.
Sekecil apapun luka yang menimpa Ciremai adalah luka kita bersama, Kekhawatiran tentang masa depan Ciremai adalah kekhawatiran kita bersama. Betapa pentingnya Ciremai untuk masa kini dan masa depan anak cucu kita, harap dia.
















