Oleh: Dahlan Iskan
BEGITU besar nama Nadiem Makarim. Sejak sebelum menjadi menteri. Bahkan sudah lebih besar dari jabatan terakhirnya itu. Pun secara internasional.
Di dunia, Nadiem lebih dikenal bukan sebagai menteri –tapi sebagai teknopreneur. Yakni teknopreneur yang membumi: mendayagunakan sepeda motor –lambang transportasi kelas bawah di Indonesia.
Pikiran seorang teknopreneur, selama itu, dikenal selalu bermain di level langit. Tapi Nadiem justru memikirkan sepeda motor –pemilik sepeda motor.
Tentu Nadiem dicibir pada awalnya. “Teknopreneur kelas sepeda motor”.
Lebih sepele dari itu: “teknopreneur kelas ojek” –lambang transportasi kelas omprengan.
Anda masih ingat beberapa pemilik sepeda motor pernah terpaksa cari makan dengan cara ngompreng. Mereka mengisi ”lubang” yang kosong.
Ada dua lubang menganga yang mereka lihat. Tidak adanya kendaraan umum di banyak jalur. Orang sudah telanjur terbiasa malas jalan kaki. Apa boleh buat: yang ada sepeda motor. Meski awalnya agak risi –dibonceng laki-laki kelas bawah yang tidak dikenal– lama-lama terbiasa.
Lubang kedua: kian modern orang kian kesusu. Mereka punya mobil tidak ada gunanya. Jalan raya Jakarta macet. Pun waktu menjadi menteri dulu saya sering memanfaatkan ojek. Termasuk kalau kesusu harus rapat di Istana.












