TERASJABAR ID – Para pengendara motor maupun mobil yang melintasi Jalan Ciguruwik,.Desa Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung mesti ekstra hati-hati. Bagaimana tidak, saat ini di ruas jalan dengan status jalan kabupaten ini kini banyak “ranjau” alias lubang yang mengundang kerawanan kecelakaan.
Ada beberapa orang –terutama pengemudi sepeda motor– terjatuh ke lubang tersebut. Kejadiannya paling sering saat hujan, sehingga genangan air menutupi lubang. Berdasarkan pantauan, kerusakan jalan mulai dari arah Ciguruwik RW 04 hingga komplek Griya Bukit Manglayang.
Selain badan jalan aspal dan hotmix-nya sudah mengelupas, drainase kiri serta kanan jalan kondisinya sangat buruk. Yang paling parah, adalah di sekitar Ciguruwik RW 04 dan pertigaaan Jalan Sukasantri RW 03 dan Cipondoh RW 06. Jalan di kawasan ini dihiasi lubang yang cukup banyak.
“Parah, statusna jalan kabupaten tapi kok jalan rusak dibiarkan. Jujur, saya tergolong taat membayar pajak tapi imbalannya jalan dibiarkan rusak,” kata Junjunan (34), seorang dosen warga Cinunuk ini.
Junjunan berharap jalan rusak harus segera diperbaiki jangan sampai kecelakaan yang menimpa pengendara terulang. “Beberapa hari lalu saat libur Natal saya melihat pemotor seorang emak-emak terjatuh ke lubang jalan di pertigaan Ciguruwik-Sukasantri-Cipondoh. Beruntung, emak-emak tersebut tak tak mengalami luka,”ungkapnya.
Sebelumnya, jalan Cigururuwik yang rusak diperbaiki alakadarnya oleh para pengemudi ojeg pangkalan (opang) Ciguruwik. Namun perbaikan dengan cara menutup jalan berlubang dengan adukan semen plus pasir tak bertahan lama. Jalan pun kini kembali dihiasi lubang.
Selain jalan Ciguruwik, jalan kabupaten yang saat ini rusak terdapat di sejumlah titik di Kec. Cileunyi.
Di antaranya jalan lapang Cendol Kampung Sukahayu RW 10, Jalan Sadang RW 11, Jalan DED Komplek Permata Biru, Desa Cinunuk, Jalan di RW 12 Desa Cimekar dan jalan Cikoneng 3 sekitar TPU Desa Cibiru Wetan.
“Jalan sekitar lapang Cendol RW 10 Kampung Sukahayu saat ini dihiasi lubang. Selain lubangnya lebar, juga dalam. Saat ini warga hanya bisa nyaeur dengan tanah dan berangkal,” kata Ketua RW 10 Didin Suhendar.*












