Ia percaya, di atas langit masih ada langit.
Bahwa hidup ini fana, dan neraka terbuka lebar bagi siapa pun yang menzalimi hamba-Nya dengan lidah yang basah oleh kebohongan. Maka ia memilih diam. Menyusun doa. Dan menunggu fajar yang tak lagi memuat namanya dalam daftar buron, tetapi dalam deretan orang-orang yang selamat dari fitnah.
Akhir yang Layak bagi Manusia
Kasus ini, kelak, akan jadi catatan kaki dalam sejarah penegakan hukum Indonesia.
Ia akan dikenang bukan karena angkanya yang fantastis, tetapi karena di dalamnya ada seorang manusia yang diperlakukan seperti musuh, padahal ia tak pernah mengangkat senjata. Ia hanya bekerja. Menabung. Beribadah. Menjaga amanah. Lalu dihancurkan oleh narasi yang tak pernah ia kenali sumbernya.
Rehabilitasi nama baik, pengembalian harta, dan penghentian perkara—itu bukan kemewahan. Itu hak.
Karena korupsi memang harus diberantas. Tapi bukan dengan mengorbankan mereka yang tak bersalah di altar pencitraan. Bukan dengan menjadikan integritas sebagai musuh, dan kebohongan sebagai senjata.
Yuddy enaldi masih percaya.
Bahwa suatu hari, KPK akan membuka pintu maaf. Bahwa suatu hari, Berani Jujur bukan hanya untuk publik, tetapi juga untuk diri sendiri. Bahwa di akhir drama ini, yang menang bukan siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling teguh menjaga hati (*)
















