Sebuah Catatan tentang Asa di Tengah Badai Fitnah KPK Dana Nonbujeter Iklan Bank. bjb
Oleh: Tim The Asian Post
ADA satu jenis kesunyian yang tak lahir dari sepi, melainkan dari terlalu banyak kata yang tak pernah benar. Yuddy Renaldy mengalaminya setiap hari. Bukan karena ia tak punya suara, tetapi karena suaranya dikalahkan oleh gemuruh narasi yang sengaja dikencangkan dari ruang-ruang dingin Komisi Pemberantasan Korupsi.
Sejak Maret 2025, Yuddy ditersangkakan tanpa pernah diperiksa.
Ia tidak tahu persis dosa apa yang harus ia sesali. Yang ia tahu, tubuhnya sakit, tabungannya habis untuk obat, dan hartanya—hasil kerja puluhan tahun di Bapindo, Mandiri, BNI, hingga BJB—disita tanpa perikemanusiaan. KPK datang seperti banjir bandang: menyapu bersih tanpa menawar belas.
Padahal, dalam keheningan malam, Yuddy masih sempat berdoa agar Allah menjaga hatinya dari dendam.
Infotainment di Ruang Pers KPK
Setiap konferensi pers KPK bagai episode baru sinetron tanpa naskah final. Judulnya masih sama: Dana Non Budgeter Iklan BJB. Pemerannya masih itu-itu saja: Jubir dan Direktur Penyidikan. Narasinya terus bergulir, kadang ke arah Dirut, dan Supit, lalu tiba-tiba melompat ke Ridwan Kamil, ke selebriti, ke pesta ulang tahun fiktif. Bak mencari pembenaran atas kasus yang sebenarnya tidak ada karena pengaduan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Publik digiring masuk ke lorong gelap dengan senter yang mati.
Mereka menyebut angka Rp222 miliar. Tapi tak pernah ada uang yang ditunjukkan. Mereka menyebut aliran dana ke sana ke mari, tapi tak pernah ada nama dan jumlah yang disebut. Mereka bicara tentang acara fiktif, padahal semua agenda kedinasan Yuddy tercatat rapi di Sekretariat BJB, disusun dengan tinta birokrasi yang kering dari kepentingan pribadi.
Yang tak pernah mereka ceritakan: Yuddy tak pernah memakai uang kantor untuk keperluan keluarganya. Semua biaya hidup, semua pengobatan, semua keluar dari tabungan pribadi. Integritasnya bukan untuk dipamerkan, tapi ia jalani seperti petani menjaga padi—diam-diam, setia, tanpa suara.
Lalu datang KPK — mereka yang bicara keras, tertawa ringan, menebar tuduhan seperti menebar abu ke wajah orang yang sudah terpuruk.
Ketika Penyelidik Lupa Jalan Pulang
Kasus ini, menurut sumber The Asian Post, kini berjalan di tempat. Bukan karena penyidik malas, tapi karena memang tak ada arah yang bisa dituju. Empat tim pemeriksa sudah berganti, termasuk pemeriksaan di Mapolda, Jawa Barat
Puluhan saksi dari internal BJB dipanggil, ditanya, bahkan—dalam bahasa halus investigasi—dipaksa mengakui. Tapi mereka kompak. Satu suara. Tidak ada dana non-budgeter. Tidak ada pengelolaan uang ilegal. Tidak ada rekening bayangan.
BJB, dengan segala sistem tata kelolanya yang telah tersertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP), terlalu cerdas untuk mengelola dana haram. Apalagi mencatatkan laba sekian tahun terakhir, tanpa satu sen pun kerugian negara yang ditemukan BPK. Zaman Yuddy laba Bank BJB mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Bank BJB.
Lalu, dari mana angka Rp222 miliar itu lahir?
Apakah ia sekadar hantu yang sengaja dihadirkan agar lembaga antirasuah tetap disebut bekerja? Atau ia memang sengaja dikerek tinggi agar tabir asap putih tak terlihat publik—bahwa sejak awal, yang ditangkap adalah angin?
















