TERASJABAR.ID – Pergerakan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memperlihatkan kondisi yang paradoks.
Arus kendaraan menuju kawasan wisata terpantau padat dan kerap merayap, namun tingkat hunian hotel justru merosot tajam.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, okupansi perhotelan tercatat turun hingga sekitar 30 persen.
Data Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan sebenarnya cukup tinggi.
Di wilayah Pacira yang meliputi Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali, jumlah pengunjung mencapai sekitar 100 ribu orang.
Sementara itu, kawasan Pangalengan juga mencatat kunjungan lebih dari 90 ribu wisatawan selama masa liburan.
Kepala Disparekraf Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan, menjelaskan bahwa tingginya angka kunjungan tersebut belum mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
“Target kami lama tinggal itu 1 sampai 3 hari dengan rata-rata belanja Rp300.000 per hari. Namun saat ini mayoritas tidak menginap,” jelas Wawan.
Penyebab utamanya adalah rendahnya Length of Stay (LOS) atau lama tinggal wisatawan.
Ia menuturkan bahwa target lama kunjungan ideal berada di kisaran satu hingga tiga hari, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp300.000 per hari.
Namun pada Nataru kali ini, sebagian besar wisatawan memilih tidak menginap dan hanya melakukan perjalanan satu hari.
Menurut Wawan, menurunnya daya beli masyarakat serta kekhawatiran terhadap isu kebencanaan menjadi faktor yang membuat wisatawan enggan tinggal lebih lama.
Meski demikian, Disparekraf tetap optimistis tingkat okupansi hotel masih berpeluang meningkat, seiring adanya sisa akhir pekan dan libur keagamaan Isra Miraj yang masih berlangsung.-***

















