TERASJABAR.ID – Makanan olahan kini semakin mudah dijumpai, mulai dari camilan ringan, minuman kemasan, hingga hidangan siap saji.
Produk ini dibuat melalui proses pengolahan bahan mentah dengan tujuan memperpanjang daya simpan, meningkatkan rasa, serta memudahkan penyajian.
Dalam prosesnya, sering ditambahkan gula, garam, lemak, pewarna, maupun bahan pengawet.
Meski praktis dan menggugah selera, konsumsi berlebihan dapat membawa dampak kurang baik bagi kesehatan.
Asupan makanan olahan yang terlalu sering dikaitkan dengan berbagai risiko.
Kandungan kalori, gula tambahan, dan lemak jenuh yang tinggi dapat memicu kenaikan berat badan hingga obesitas, terutama jika tidak diimbangi aktivitas fisik.
Di sisi lain, banyak produk olahan rendah vitamin, mineral, dan serat, sehingga berpotensi menyebabkan kekurangan gizi apabila dijadikan menu utama sehari-hari.
Rendahnya serat juga dapat mengganggu sistem pencernaan, seperti menyebabkan sembelit dan perut kembung.
Pola makan tinggi gula dalam jangka panjang bahkan dapat memengaruhi konsentrasi, meningkatkan risiko diabetes tipe 2, serta berdampak pada kesehatan jantung akibat tingginya kadar natrium dan lemak trans.
Pada kondisi tertentu, konsumsi berlebihan juga dapat memperberat kerja ginjal dan meningkatkan risiko kanker usus besar, terutama dari daging olahan.
Agar tetap sehat, penting membatasi porsi dan frekuensi konsumsi makanan olahan.
Pilih produk dengan label gizi yang jelas dan kandungan gula, garam, serta lemak yang lebih rendah.
Perbanyak makanan segar seperti buah, sayur, dan protein sehat, serta biasakan memasak sendiri agar komposisi makanan lebih terkontrol.-***

















