“Inilah hasil karya petani Indonesia di panggung internasional, sehingga karya petani Indonesia dinikmati dunia hari ini. Inilah puncaknya kebahagiaan petani,” ungkap Amran.
Ia menjelaskan, efek Indonesia tidak impor membuat pasokan beras di pasar internasional dari negara eksportir menjadi berlimpah. Dengan itu, kebijakan tegas Presiden Prabowo benar-benar menjadikan petani Indonesia berkontribusi secara tidak langsung pada pasar beras global.
“(Terjadi) penurunan harga karena Indonesia adalah importir. Tetapi saat ini tidak ada impor, itu secara otomatis barang melimpah di luar. Vietnam, Thailand, India, Pakistan, dan seterusnya. Ini secara tidak langsung, petani Indonesia, masyarakat Indonesia, berkontribusi pada dunia ini,” beber Amran.
“Inilah gagasan dan kebijakan-kebijakan besar oleh Bapak Presiden. Kami hanya melaksanakan bagian kecil. Ini dibantu oleh TNI, Polri, Kejaksaan, Kementerian Perdagangan, BUMN, Komisi IV DPR, semua ikut membantu. Ini benar-benar kolaborasi yang baik. Bukan aku, tapi kita semua sebagai anak bangsa yang terlibat,” kata Amran.
Adapun pergerakan harga beras di pasar internasional salah satunya juga dapat dipantau dalam laman resmi The Food and Agriculture Organization (FAO).
FAO menyajikan panel informasi berupa The FAO All Rice Price Index (FARPI). FARPI sendiri merupakan indeks bulanan dari FAO yang mencerminkan rerata harga berbagai jenis komoditas beras dari negara pengekspor.
Berdasarkan FARPI, rekor indeks harga paling rendah dalam 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2025. Di November 2025 tercatat berada di level 96,9. Dalam catatan FAO, indeks FARPI terendah sebelumnya pernah terjadi di tahun 2021, tepatnya di Agustus 2021 dengan indeks 97,9.
Hal yang menarik adalah pada tahun 2021 dan 2025 adalah Indonesia sama-sama tidak melaksanakan pengadaan importasi untuk penambahan stok CBP.
















