Dalam khazanah Minangkabau, alam tidak pernah diposisikan sebagai objek yang boleh diperlakukan semaunya. Pepatah lama mengingatkan, Alam takambang jadi guru. Alam yang terbentang adalah pengajar, ia memberi pelajaran tentang batas, keseimbangan, dan akibat. Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan sungai dibiarkan rusak, sesungguhnya kita sedang menolak pelajaran itu. Kita memilih lupa, dan lupa sering kali berujung petaka.
Pepatah lain berkata, Sawah ladang bapaga undang, rimbo bapaga adat. Hutan dijaga oleh adat, oleh kesepakatan moral bersama, bukan semata oleh hukum tertulis. Namun hari ini, pagar itu runtuh. Penebangan berlangsung seolah tanpa pengawas. Jika bukan pembiaran, maka itu kegagalan. Jika bukan kegagalan, maka itu kompromi.
Di titik inilah kebijakan kehutanan di Sumatra Barat patut dipertanyakan dengan lebih jujur dan berani. Di atas kertas, regulasi ada. Peta kawasan jelas. Status hutan lindung ditetapkan. Tetapi di lapangan, penebangan berlangsung seolah tanpa mata negara. Negara hadir di meja rapat, tetapi absen di hulu sungai dan lereng bukit.
Yang lebih menyakitkan, ketika bencana datang, yang pertama disalahkan adalah hujan dan alam. Padahal hujan hanyalah pemicu. Akar masalahnya adalah kebijakan yang longgar, pengawasan yang lemah, dan keberanian politik yang tumpul. Para perusak hutan menghilang, sementara warga kampung menanggung lumpur, kehilangan rumah, bahkan kehilangan nyawa.
Karena itu, pulang ke kampung tidak seharusnya berhenti sebagai peristiwa personal. Ia mesti menjadi kesadaran kolektif. Kampung adalah tempat paling indah untuk tinggal jika alamnya dijaga, jika hutannya dihormati, jika sungainya dipelihara. Mencintai kampung tidak cukup dengan rindu dan nostalgia; ia menuntut keberpihakan, keberanian bersuara, dan kesediaan menjaga—meski hasilnya mungkin tak kita nikmati sendiri.
Tahun baru ini aku tidak menulis resolusi. Aku menulis kesadaran. Aku pulang bukan hanya untuk menemani yang sakit dan mendoakan yang telah pergi, tetapi juga untuk mengingatkan diriku sendiri: bahwa pulang sejati adalah ikut memelihara.
Tahun baru ini aku tidak meniup terompet. Aku hanya berdoa. Untuk kakak tertuaku yang masih terbaring dalam sunyi. Untuk ibuku yang telah lebih dulu pulang. Untuk kampung yang kucintai agar tidak semakin kehilangan dirinya. Dan untuk diriku sendiri—semoga setiap pulang kelak bukan sekadar singgah, melainkan ikhtiar untuk menjaga.
Muara Labuh 1 Januari 2026

















