Apalagi belakangan ini, di ranah Minang bencana datang silih berganti. Longsor terjadi di banyak tempat. Jalan terputus. Hujan turun membawa kayu-kayu besar dari hulu. Orang-orang kampung menghadapinya dengan sabar, seolah telah berdamai dengan keterbatasan hidup yang makin terasa berat.
Yang masih dari kampung adalah alamnya. Bukit, sawah, dan pegunungan masih membentang luas. Pemandangan itu membuat siapapun terpana, meski aku sadar: ia tak lagi sehijau dulu. Sungai yang dahulu jernih kini keruh. Airnya membawa lumpur, membawa jejak-jejak kerusakan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Barangkali cara manusia memperlakukan hutan tak jauh berbeda dengan cara kita sering menunda merawat orang-orang terdekat, baru panik ketika semuanya hampir terlambat.
Jalanan pun berubah. Dulu, kuda dengan bendi dan sepeda memenuhi jalan. Orang berjalan kaki sambil saling menyapa. Kini, deru motor dan mobil mendominasi udara. Kampung memang bergerak maju, tetapi ada sesuatu yang tertinggal. Keakraban. Kelambatan yang menenangkan. Kesederhanaan yang tidak tergesa. Ada yang hilang, meski sulit menunjuknya dengan pasti.
Apakah aku masih mengenali kampung ini? Tentu saja. Muara Labuh masih hidup dalam ingatanku. Ia masih terasa sebagai milik. Namun di saat yang sama, kadang merasa hanya tamu. Kawan-kawan masa kecil hampir semuanya merantau. Rumah-rumah banyak yang sunyi. Kampung terasa sepi, meski cinta pada kampung halaman tak pernah benar-benar mati. Jika kampung berubah sedemikian rupa dan keluarga satu per satu pergi, di mana sebenarnya tempat pulang itu?
Hal yang mengagetkan aku saksikan adalah antrian pom bensin yang menular Dimana mana. Mobil perlu antri untuk isi bensin sampai 2-5 jam. Itupun belum tentu dapat. Itu konon telah terjadi sejak setahun terakhir di seluruh Sumatra Barat.
Yang paling menyedihkan sejak aku datang di bandara Minangkabau, mengelilingi kota Padang, sampai akhirnya tiba di Muara Labuh, adalah menyaksikan kerusakan lingkungan yang kian parah. Dimana mana banyak longsor dan potensi longsor.
Di lokasi-lokasi longsor, kayu-kayu besar masih tergeletak memenuhi lereng dan alur sungai. Ia menjadi pemandangan sehari-hari yang menyayat perasaan. Kayu-kayu itu bukan sekadar sisa bencana; ia adalah jejak penebangan yang rakus. Padahal hutan-hutan itu dahulu menjaga kelestarian alam, menahan air, menyejukkan udara, dan memastikan kehidupan tetap seimbang. Menyedihkan melihat bagaimana pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan justru berubah menjadi ancaman setelah ditebang tanpa kendali. Kayu-kayu besar terbawa arus hujan, menghancurkan rumah, merenggut korban jiwa. Dan ironisnya, banyak kayu itu berasal dari kawasan hutan lindung. Yang seharusnya melindungi, justru melukai. Yang disebut dijaga, justru menjadi sumber petaka.

















