Oleh ReO Fiksiwan
„Pengalaman Nabi Muhammad tentang wahyu, termasuk Mi’raj, bukanlah sekadar peristiwa mistik pribadi, tetapi merupakan penegasan atas misinya sebagai utusan terakhir, yang menghubungkannya dengan tradisi kenabian Ibrahim, Musa, dan Isa.” — Fazlur Rahman(1919-1988), Major Themes of the Qur’an(1980).
Pada awal 1990, saya pernah menulis peristiwa Isra Miraj dalam perspektif semiotika dan fenomenologi melalui sirah nabi dalam Fenomenologi Quran(1947;1982) dari Malek Bennabi(1905–1973) di koran Media Indonesia.
Ketika tulisan itu termuat, seminggu kemudian saya dikirimi kartu wesel pos dengan jumlah uang sebesar Rp.95.000 ke alamat Fakultas Sastra Unsrat Manado.
Hari ini, Jumat 16 Januari 2026, khusus umat Islam kembali memperingati peristiwa itu.
Peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, yang dalam tradisi Islam dipahami sebagai perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lalu naik hingga Sidratul Muntaha, merupakan salah satu momen paling monumental dalam sejarah kenabian.












