Kondisi surplus tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga membuka ruang ekspor pada sejumlah komoditas. Sepanjang 2025, ekspor bawang merah tercatat 1,56 ribu ton dan jagung sebesar 7,49 ribu ton.
Meski demikian, Kepala Bapanas menegaskan bahwa capaian surplus bukanlah akhir dari upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Pemerintah masih akan menggenjot produksi untuk komoditas yang belum swasembada, yakni kedelai, bawang putih, dan sapi.
“Jadi tidak boleh ada main-main. Beras, stok kita banyak di gudang, tertinggi sepanjang sejarah. Daging, stok kita banyak. Jagung pakan tidak impor. Kemudian, bawang merah, cabai, telur, ayam. (Itu) kita sudah swasembada. Tinggal yang kita kejar berikutnya lagi yaitu kedelai, bawang putih. Ini yang kita kejar ke depan termasuk sapi, peternakan sapi,” ujarnya.
Dengan posisi stok yang kuat menjelang bulan suci Ramadan, Amran menekankan bahwa kondisi surplus harus tercermin pada stabilitas harga di tingkat konsumen. Tidak boleh ada pihak yang memanfaatkan momentum untuk kepentingan sepihak.
“Jadi sekarang, alhamdulillah menghadapi bulan suci Ramadan, angka-angka ini surplus. Termasuk yang impor, stoknya banyak. Tolong yang impor, tolong jangan permainkan keadaan. Kalau aku dapatkan, anda berakhir menjadi importir. Itu adalah terakhir anda menjadi importir,” tegas Amran.
Ia juga menegaskan tidak ada lagi toleransi terhadap pelanggaran yang merugikan masyarakat.
“Ini karena kalau kami baik-baik menghimbau, tidak ada pergerakan. Tahun ini, tidak ada kompromi lagi. Izinnya kami cabut. Seluruh kewenangan kami, Kami cabut. Pidananya kami serahkan ke Satgas Pangan Polri,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari penguatan pengawasan, Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan telah melaksanakan 9.138 kegiatan pemantauan yang menjangkau pasar tradisional, ritel modern, distributor hingga produsen.
















