Akan tetapi, dari 155 kabupaten/kota tersebut, hanya 53 daerah saja yang mengalami rerata harga daging ayam ras melampaui HAP tingkat konsumen.
Sementara 102 daerah mengalami kenaikan IPH tapi rerata harganya masih tidak melebihi HAP tingkat konsumen.
Beralih ke komoditas telur ayam ras, Maino menjelaskan kondisi harga saat ini masih terpantau stabil tanpa gejolak berlebihan. Ia optimis harga telur ayam ras sepanjang Ramadan dapat terkendali.
Terlebih, pemerintah telah siapkan paket program intervensi pangan yang tidak hanya menyasar konsumen saja. Namun juga menyasar ke produsen pangan dalam negeri seperti peternak unggas.
“Kalau telur, bervariasi. Ada yang Rp 30.000. Ada yang Rp 31.000 tapi kecenderungan memang sudah turun di beberapa tempat. Mulai menurun menjadi Rp 29.000 sampai Rp 30.000 untuk telur, menurut kami pantauan kami,” jelasnya.
Dalam laporan BPS, untuk rerata harga telur ayam ras secara nasional sampai minggu kedua Februari 2026 disebutkan berada di Rp 31.757 per kg dengan HAP tingkat konsumen maksimal di Rp 30.000 per kg. Sementara jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH telur ayam ras mencapai 80 daerah.
Dari 80 daerah yang mengalami kenaikan IPH tersebut, hanya 28 kabupaten/kota saja yang mengalami harga telur ayam ras melewati HAP tingkat konsumen. Sementara 52 kabupaten/kota lainnya masih cukup aman karena rerata harga telur ayam ras masih sesuai koridor.
Salah satu upaya pemerintah untuk menjaga kestabilan harga daging ayam dan telur ayam adalah pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan di tahun 2026 ini. Anggaran sebesar Rp 678 miliar, maka target penyaluran SPHP jagung pakan ke para peternak dapat mencapai total 242 ribu ton.

















