Empat tahun Muqtafi di Makkah.
Pulang ke Madura ia menghadapi budaya lokal: dikawinkan saat masih muda. Dijodoh-jodohkan. Untuk anak kiai biasanya dijodohkan sesama anak kiai.
Muqtafi menolak tradisi dijodohkan itu. Ia menghindar. Caranya: berkelana. Ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu ke Jakarta.
Di Jakarta itulah Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam masa kini –saat itu. Sampai ke Paramadina –di situ bertemu Anies Baswedan. Juga dengan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Dengan orang-orang NU tingkat pusat. Dengan tokoh-tokoh Front Pembela Islam seperti Habib Riziq. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.
Di Jakarta pula Muqtafi jatuh cinta. Ia kenal putri lima ”i” tamatan SMA Sudirman Jakarta. Si putri sudah hampir jadi artis. Sudah ikut audisi untuk jadi bintang sinetron. Sudah seleksi tahap akhir.
Sang putri juga sedang menolak dijodohkan. Sedang dalam tahap akan dipaksa. Maka hubungannyi dengan Muqtafi tidak direstui. “Kami ini praktis kawin lari,” ujar Muqtafi sambil menunjuk sang istri.
Setelah sang istri hamil barulah orang tua mereka merestui. Anak dalam kandungan itu kini baru saja diwisuda sebagai sarjana psikologi Universitas Airlangga Surabaya: Salwa Humairo. Cantik seperti ibunyi. Sudah pula punya adik tiga.
Salwa tidak terlihat mewarisi kenakalan ayahnyi. Karena itu tidak perlu menitipkan Salwa ke kiai teman ayahnya.
“Jangan menitipkan anak kiai ke kiai temannya. Kalau nakal dibiarkan. Tidak ditegur. Tidak dihukum,” ujar Muqtafi.
Sirrul Cholil tersembunyi di pelosok Bangkalan. Juga tersembunyi dari nama besar Syaichona Cholil. Kelihatannya kata “sirrul” sengaja dipilih karena maknanya itu: rahasia kekasih.***















